Belajar Menulis, dokumentasi pemikiran perjalanan hidup.

10 February 2015

Karena Aku Kopi

Aku biasa berada disudut meja, sering disebut-sebut menginspirasi, sebagian lagi menyebutku seorang teman, teman menghabiskan sore dalam menyambut senja.

Aku biasa berada disudut meja, bersaksi dari beragam banyak cerita hidup yang nampaknya masih terus berlanjut. Menjadi pendengar setia dari banyak kegundahan anak adam, pun kebahagiaan mereka aku juga menjadi saksi. Ditempat yang sama, sebab aku biasa berada disudut meja, ditunggu lalu usai dan selesai, selebihnya hanya dilupa.

Dimeja yang sama, juga dalam cangkir yang itu-itu saja, secara bergantian aku mengamati, mendengar, lalu kembali dilupa. Ah, ada saat dimana rasa hangat menjadi begitu didamba, barangkali saat itulah aku terlihat menggoda, walaupun aku biasa dan sangat lumrah kalau-kalau hanya dijadikan pelengkap dan pendengar.

Aku biasa berada disudut meja, mendengar bagaimana sepasang kekasih saling tuduh menyalahkan. Mengetahui, bagaimana permainan kongkalikong antar sesama, pun sumpah serapah mengutuki hidup. Akulah, yang begitu banyak menyaksikan kompromi antar golongan. Dan akulah, saksi sekaligus perekam paling lengkap kalau-kalau kelak waktu memuatarnya sebagai dasar pengetahuan masa depan.

Aku biasa berada disudut meja, sebagai pelengkap permainan domino ataupun poker, lalu dilupa dan ditinggal tertawa-tawa. Begitu, secara terus-menerus tanpa ada batas pelarangan, konon banyak hal yang dulu tabu kini berubah menjadi wajar-wajar saja. Alasan klasik: "ini jaman modern" begiti kalimat yang hampir selalu muncul dan menggema.

Aku biasa berada disudut meja, bertegur sapa dengan bibir dusta, sesekali kombinasi kretek menjadi perpaduan yang disebut-sebut cocok dan jodoh. Dimeja yang sama dan cangkir yang juga itu-itu saja, aku berdiam dalam suhu yang hangat, sangat hangat. Bagimu, mungkin biasa menyebutku panas. Aku yang selalu ditunggu untuk dikandaskan, lalu seperti biasa, dilupa.

Aku biasa berada disudut meja, bersaksi rencana kejahatan, belajar banyak pengetahuan, juga mendengar tak sedikit hal baik. Entahlah, aku bahkan bersaksi atas kemesraan pasangan muda-mudi, tangan yang curi-curi lalu mengusap, serta telikung mata yang beradu pandang dari kekasih satu ke kekasih lain. Karena aku kopi, ada dan merekam banyak hal yang manusia perbuat.

Related Posts:

  • Spekulasi dalam Muslihat bagai malam tak berujung fajargelap tanpa pancaran cahayasunyi tiada gemercik yang meriuhkanmerasa sendiri tak berkaw… Read More
  • Untukmu Para Petinggi untukmu para petinggiyang rungu tapi tulihingga ta' mampumendengar tangis rintih kamiuntukmu para petinggiyang melihat… Read More
  • Deklarasi Hati gerak polah mu dalam kesederhanaan mengabarkan padaku arti istimewa kau yang sempat melesat singgah pada ranting-r… Read More
  • Manusia Pengganggu Peradaban Dalam rengkuhan pesisir ku rasa pekat melekat pada rongga jiwa begitu terasa teramat menyiksa bahkan, purnama terbirit-bir… Read More
  • Mencumbu Purnama kau adalah permadani senja sebuah awalan cerita malam saat bintang bersenggama dengan awan dan saat rembulam mencumbu purnama… Read More

0 komentar:

Post a Comment