Belajar Menulis, dokumentasi pemikiran perjalanan hidup.

Showing posts with label serba serbi. Show all posts
Showing posts with label serba serbi. Show all posts

18 November 2014

Isi Kepala: Antara Judul Buku dan Merk Produk

Entahlah, barangkali dalam kisaran hitungan detik kepala kita dijejali
beragam produk. Jangan tanyakan produk apa, karena kepalaku bahkan
hampir tak dapat menyebutkan satu per satu produk itu. Bukan apa-apa,
kepala yang hanya sebesar bola ini barangkali terlalu kecil untuk
menghafal dan menyimpan nama-nama produk itu. Belum lagi persoalan
hidup, bukankah kamu sepakat kita juga musti menyusun keluhan-keluhan
agar terlihat seperti orang intelek saat kita twitkan atau sekedar
buat status BBM.

Nah, aku bahkan tidak mampu menerka-nerka berapa banyak daftar buku
yang sudah dipatenkan dikepala. Jika judul saja aku tidak
mengingatnya, maka jangan sekali-sekali kamu tanyakan isi dari sebuah
buku. Karena seperti di awal ku katakan, kepala ini terlampau penuh
oleh beraneka produk yang di jajakan di berbagai model pasar bebas.
Terlebih begitu banyaknya marketing yang aduhai kreatif betul dalam
mengemas review suatu produk. Tidak tanggung-tanggung, berbagai jargon
didaur ulang menjadi sebuah kepastian bahwa kita memang harus memiliki
suatu produk tersebut.

Tentu saja aku tidak menyalahkan pihak marketing/ sales suatu produk
yang kreatif itu. Bukankah mereka juga berangkat dari asas kebutuhan
untuk menjalani hidup?? Dan dengan begitulah mereka (sales) terbebas
dari kutukan paling mengerikan dalam kehidupan bermasyarakat, yaitu
"pengangguran". Disisi lain tentu saja mereka itu lebih beruntung dari
sebagian makhluk korban PeHaKa atau penggusuran.

Kembali pada pembahasan awal, kepalaku yang begitu penuh oleh berbagai
macam produk. Entahlah, semoga itu tidak terjadi dikepalamu. Nah,
apakah dengan ini kemudian kamu akan menilaiku sebagai seorang yang
radikal? Biarlah, tak mengapa pandangan itu jika nantinya akan aku
sandang. Selagi tidak terkena kutukan yang mengerikan sebagai
pengangguran saja. Atau sebaliknya, aku justru akan dituduh sebagai
makhluk yang terlalu konvensional? Terserah kamu saja, pembaca.

Pertanyaan yang musti kita jawab bersama ditengah-tengah peradaban
produk saat ini yaitu: "berapa perbandingan daya simpan memori kepala
kita terhadap jumlah produk tiap harinya dengan jumlah buku yang kita
baca". Jangan dulu menghakimi aku sebagai orang sok tahu, disitu aku
menggunakan kata 'kita' yang artinya bukan hanya ditunjukan kepadamu,
melainkan juga ditunjukan kepadaku. Yah, ini adalah tantangan besar
kita di era digital dengan seabrek produk hiburan dan lain sebagainya.
Bagaimana kita menjadi makhluk yang tahan badai dan bisa memilah
penempatan nama produk dan pengetahuan dikepala kita.

Karena pengetahuan itu terlalu luas cakupannya, maka aku
spesifikasikan menjadi buku. So, mari itung-itungan setiap harinya.
Mana yang lebih banyak masuk dan kemudian tersimpan rapih dikepala
kita. Apakah nama-nama produk yang update atau daftar nama buku yang
siap untuk dilahap dan dihabiskan membacanya. Selamat bertugas.

Jogjanesia, dua ribu ampat belas.

14 November 2014

Kopi Pahit Itu Nikmat, Sementara Hidup?

Sebagai salah satu dari jutaan penikmat sekaligus pengagum eksotisme
kopi, tentu saja aku sangat menyukai kopi. Jangan cemburu dulu, sebab
aku penikmat kopi. Sementara kamu bukan untuk dinikmati, tapi untuk
dicintai. Bukan begitu??

Baiklah lupakan dulu soal cinta-cinta itu, kembali pada derap rayu si
kopi. Sebelum aku bertanya, aku kasih tahu dulu kalau aku cukup suka
pada kopi pahit. Ah, jangan tanya kenapa dulu? Nanti juga aku kasih
tahu alasannya, yah nanti beberapa baris kebawah.

Sebelum terlalu jauh, aku ingatkan dulu kalau disini aku bukan akan
membahas sisi positif maupun negatif dari kopi. Karena dua hal itu
bagiku terlalu mainstream di hal apapun. Karena itu aku memberi judul
tulisan kali ini "Kopi Pahit Itu Nikmat, Sementara Hidup?". Tentu
saja, kalian sedikit banyaknya bisa menelaah maksud dari judul
tersebut bukan?? Tentu saja, kalian pasti cukup kritis jika sampai
tersesat dan membaca tulisan ini.

Lalu apa hubungannya kopi pahit dengan dinamika hidup yang (sangat
mungkin) naik-turun/ tidak stabil ini. Disitulah point pentingnya,
dimana kopi yang bagi (sebagian) orang identik dengan rasa manis. Aku
justru lain, bagiku kopi ya jangan terlalu manis (pait lebih nikmat).
Alasannya bukan karena kadar gula berlebih itu tidak baik, melainkan
karena aku ingin menempa diriku. Bahwa kenyataan hidup tidak selamanya
akan manis. Sesekali kepahitan hidup pasti akan datang, entah kapan
waktunya.

Istilah kerennya "kenyataan tidak selalu berbanding lurus dengan apa
diharapkan". Nah, karena itu cobalah sesekali untuk merasakan paitnya
kopi. Syukur-syukur bisa menikmatinya, bukan apa-apa setidaknya biar
bisa mengecap nikmatnya kopi pait. Siapa tahu, dari situ akan membuat
kita terbiasa dengan hal-hal pait salah satunya kepahitan hidup. Jika
sudah terbiasa (siap) menghadapi pahitnya hidup, tentu saja akan
memudahkan kita untuk tetap bersyukur. Meskipun sedang dalam keadaan
kurang baik sekalipun.

Sebenarnya dulu aku pernah menulis hal serupa, yaitu bagaimana kita
bisa tetap bersyukur atas apa yang sudah kita dapat dan punyai. Hanya
saja kali ini lebih spesifik, yaitu pada point kopi pait. Ah, kopi
memang selalu asik dan nampak romantis dengan hujan. Terlebih bila
sudah ketemu sama si singkong, hemmm pastilah langsung klop.
Barangkali seperti kawan lama yang baru berjumpa, keduanya langsung
terlibat percakapan intim. :))

Baiklah kawan, mungkin itu dulu cerita pagi ini. Jika diantara kalian
ada penikmat coklat, tak mengapa. Bukankah diantara kita tidak harus
seragam?? Dan berbeda juga bukan alasan untuk tidak berkawan. Karena
itu, siapapun kalian, penikmat apapun kalian, jika sudah membaca
sampai sini pastilah kalian masuk dalam lingkaran orang-orang tersesat
di jalan yang benar. Hehehee salam kopi dan #HappyBlogging.

15 July 2014

Me(r)gawati

Di Jawa Tengah bagian barat, tepatnya di kabupaten Cilacap. Yah,
sebuah daerah yang cukup terkenal dengan adanya penjara para terpidana
kasus berat. Sebuah penjara yang dalam catatan sejarah pernah di
singgahi juga oleh penulis tersohor Pramoedya Ananta Toer.
Nusakambangan, siapa tidak mengenal pulau yang sebagian wilayahnya
digunakan sebagai penjara tersebut.

Namun dalam tulisan kali ini saya bukan bermaksud menceritakan pulau
yang (maaf) kadang terkesan seram itu. Namun sisi keunikan lain dari
wilayah yang sering kita kenal dengan "ngapak" itu. Tepatnya, di
bagian timur dekat dengan perbatasan kabupaten Kebumen. Sementara sisi
utara mendekati dengan perbatasan Kabupaten Banyumas.

Di Cilacap sebelah timur ada kota kecil yang bernama Kroya, sebuah
nama yang mirip dengan salah satu wilayah di Jawa Barat. Sementara
dalam kecamatan Kroya terdapat sebuah desa yang bernama 'Mergawati'.
Sepintas nama desa ini mirip dengan salah satu nama pemimpin partai,
yaitu ibu Megawati. Namun jika coba diartikan sesuai kaidah jawa tentu
saja bukan. Dalam bahasa jawa 'merga = margi yang berarti jalan',
sementara 'wati berarti perempuan'.

Maka ada yang bilang kalau 'mergawati' itu berarti jalan perempuan,
bahkan ada juga yang mengatakan bahwa mergawati berarti alat kelamin
perempuan. Secara filosofis, berarti sebuah gerbang kehidupan baru.
Dimana perempuan akan melahirkan anak melalui alat kelaminnya, sebuah
gerbang kehidupan.
Secara sederhana kadang nama desa tersebut memang terdengar unik.
Terlepas dari itu semua, desa mergawati tetaplah menjadi desa yang
bagiku membanggakan. Disanalah gerbang kehidupanku berawal.

Selain itu, desa mergawati ini di bagi menjadi tiga dusun. Yang
pertama yaitu 'Ngulakawu', konon nama tersebut berawal dari seorang
kakek yang menemukan 'ula klawu yang berarti ular berwarna abu-abu',
sejak saat itulah dusun tersebut dikenal dengan nama 'ngulakawu'.

Kemudian yang kedua yaitu 'Nusagebang', lain cerita dengan dusun yang
pertama. Nama ini konon dahulu karena banyak 'blumbang-blumbang' yang
ditanami pohon gebang. Maka akhirnya daerah ini dikenal dengan nama
'Nusagebang', namun secara pengucapan lebih sering disebut dengan
'segebang'.

Dusun yang ketiga yaitu bernama 'Rawawungu', tidak jauh berbeda dengan
dusun yang lain. Penamaan dusun ini juga berangkat dari kondisi tempo
dulu. Dimana ada sebuah sawah yang menyerupai rawa, kedalamannya tidak
begitu. Namun uniknya pada jaman dahulu konon rawa tersebut tidak
pernah kering, meskipun sawah sekelilingnya mengalami kekeringan.
Akhirnya daerah tersebut kemudian dikenal dengan nama 'Rawawungu'
namun secara pengucapan lebih dikenal dengan 'Rawungu'.

Selain itu, di desa mergawati juga ada beberapa KK yang secara
geografis terletak di desa lain, maka oleh masyarakat sekitar disebut
dengan nama 'Mergawati tempel.

Mungkin begitu dulu, suatu saat nanti saya akan memaparkannya lebih
rijit lagi. Tentu saja, dengan model pemaparan yang berbeda dan semoga
lebih menarik untuk dibaca. Untuk saat ini mungkin saya cukupkan
sampai disini, dan inilah cerita desaku. Sebuah desa yang bernama
"Me(R)gawati", ingat ini nama desa lho bukan nama salah satu petinggi
partai. Hehee

Salam dari desa kawan, semoga kalian berkenan membagi cerita desa
kalian juga. Karena biar bagaimanapun tanah kelahiran tetap pantas
untuk dibanggakan. Selain itu saya juga yakin, tanah kelahiran
(walaupun hanya di desa) pasti banyak menyimpan kenangan, cerita,
serta pembelajaran hidup yang mungkin tidak bisa kita lupakan hingga
sekarang. Salam dari desaku buat desa kalian.

01 July 2014

Media: Informasi "Mudik" vs Pencitraan Capres

Fenomena banyaknya masyarakat desa yang berbondong-bondong ke ibu kota dan kota-kota besar lainnya, membuat “mudik” menjadi suatu tradisi tahunan yang cukup populer. Terlepas dari kondisi tersebut juga umat muslim di Indonesia yang menjadi mayoritas dari umat beragama lainnya. Keadaan tersebut membuat pemerintah wajib melakukan pengawasan yang lebih, khususnya dalam pengamanan lalu lintas.

Biasanya, sebelum bulan ramadhan seperti saat ini media sudah banyak memberikan informasi seputar mudik. Namun untuk tahun ini nampaknya masih belum terlihat intensitas media dalam memberikan informasi seputar tradisi tahunan itu. Hal ini sedikit banyaknya dipengaruhi oleh dua faktor yaitu penyelenggaraan piala dunia dan pemilu di Indonesia.


Media televisi misalnya, dalam setiap harinya prosentase antara pemberian informasi seputar mudik dengan pemberitaan seputar pencapresan dari masing-masing kandidat masih cukup timpang. Belum lagi pagelaran piala dunia olah raga yang paling digemari diseluruh dunia yakni sepak bola.

Meskipun memang antara piala dunia dan pemilu jaraknya lebih dekat dibandingkan dengan rutinitas tahunan (mudik), setidaknya ada bentuk-bentuk informasi yang lebih dibutuhkan oleh masyarakat. Hemmm nampaknya memang piala dunia dan pemberitaan kampanye masing-masing capres lebih dipentingkan dari pada pemberian informasi seputar mudik.

Pemilu memang penting, mengingat hal tersebut merupakan proses penentuan nasib bangsa lima kedepan. Namun jika saya melihat informasi yang diberikan oleh media (khususnya televisi) nampaknya pemberitaan mengenai pemilu hanya menuju pada pengklaiman masing-masing kerja para calon. Misalnya media televisi A secara terus menerus memberitakan aktifitas capres B, sebaliknya media televisi B memberitakan aktifitas capres A dengan terus-menerus pula.

Artinya, secara penyajian sebenarnya lebih pada model pencitraan dari pada subtansi penyajian informasi. Dengan begitu bagi saya cukup disayangkan, padahal kebutuhan informasi seputar mudik masyarakat perantau cukup penting. Terlebih jika kita lihat kondisi infrastruktur kita yang sebagian besar jalur mudik kurang mumpuni (masih banyak jalur mudik rusak).

Disini saya bukan melarang penyajian media televisi mengenai pemilu, hanya saja setidaknya tidak semua informasi yang disajikan televisi melulu soal capres. Karena informasi seputar mudik juga cukup penting, seperti yang sudah saya paparkan diatas bahwa banyak masyarakat desa yang berbondong-bondong ke kota-kota besar guna memenuhi kebutuhan. Dan momentum lebaran seringkali digunakan untuk berkunjung ke kampung halaman guna merayakan lebaran bersama keluarga.

Semoga penyuguhan mengenai aktifitas capres ataupun partai tidak sepenuhnya memangkas informasi yang lebih dubutuhkan masyarakat Indonesia. Disinilah sebenarnya peran media dalam memposisikan dirinya sebagai salah satu pilar demokrasi seharusnya dibuktikan. Tentu saja dengan “keindependenannya” dalam proses menyuguhkan informasi kepada khalayak. Maka masyarakat lebih diutamakan ketimbang kepentingan suatu golongan tertentu saja, terlebih soal politik.

Marhaban Ya Ramadhan.....

01 November 2013

Makam Uje, Siapa Yang Berhak?

Makam Uje, Siapa Yang Berhak? Pertanyaan ini berangkat dari diri yang barangkali sangat kurang paham mengenai hukum. Terlebih hal tersebut berkaitan dengan hukum agama (disini islam).

Alm Ustadz Jefri


Pernah saya dengar, bahwa ketika orang sudah meninggal maka janganlah kita mempersoalkan segala sesuatunya. Karena hal tersebut bisa menjadi bayang-bayang yang tak nyaman dikehidupan sana. Terlebih soal keburukannya semasa masih hidup, hal tersebutlah yang kemudian melahirkan tuntutan bahwa kita meski banyak berbuat baik selagi masih hidup.

Nah, setelah beberapa bulan lalu kita telah kehilangan sosok ustadz muda yang dengan gaya dakwahnya mampu menyihir kalangan remaja khususnya. Ustadz Jefri Al-Bukhori atau yang lebih akrab disapa Uje (Ustadz Gaul). Tentu menjadi tanggung jawab kita bersama dalam meneruskan cita-cita dakwahnya, mengingat metode dakwahnya yang justru lebih terfokus pada generasi muda. Ustadz Jefri Al-Bukhori memang kerapkali menggunakan istilah-istilah remaja populer dalam dakwahnya, hal itulah yang dilakukan oleh beliau dalam upaya membaur dengan generasi muda.

Meskipun banyak publik merasa kehilangan yang amat sangat, tentu saja jika kembali pada tuntunan agama kita tetap harus berusaha merelakannya kembali ke sisi-Nya. Karena siapapun dan apapun yang hidup pasti akan kembali kepada-Nya, semua hanya persoalan waktu saja.

Seperti kata pepatah, semakin tinggi sebuah pohon maka semakin besar angin yang bakal menerpanya. Barangkali begitu juga yang di alami oleh alm Uje, ditengah-tengah agenda dakwahnya yang cukup padat ternyata Tuhan sudah terlalu rindu pada beliau. Semoga semua kebaikan beliau dapat diterima disisi-Nya dan segala kesalahannya beliau dapat diampuni. Amin

Terlepas dari itu semua, angin baru masih saja menyerang. Hal lain ini berkaitan dengan makam almarhum seperti banyak diperbincangkan diberbagai media massa. Tentang perbedaan pendapat antara istri alamrhum Uje dengan ibunda almarhum Uje.

Makam Uje, Siapa Yang Berhak? pertanyaan itulah yang pada dasarnya meski kita kaji lagi dari perspektif hukum agama. Karena akan sangat disayangkan jika hal ini dibiarkan berlarut-larut, jika dalam usrusan keluarga maka tuntunannya jelas bahwa anak yang sudah menikah sudah bukan lagi tanggung jawab orang tuanya. Hal tersebut dikarenakan sudah memiliki keluarga sendiri, nah lantas bagaimana jika dikaitkan dan di tarik dalam urusan makam? apakah ini juga bisa disetarakan dengan persoalan keluarga tadi? wallohu 'alam bissowab.

Meskipun nampaknya hal ini bisa menjadi persoalan yang pelik, namun bukan bukan berarti tidak dapat diselesaikan secara keluarga. Semua pihak yang terkaitpun sudah sama-sama dewasa dan sudah pasti bukan lagi anak-anak. Seharusnya yang sama-sama masih hidup juga jangan terlalu menonjolkan keinginan pribadi mereka, namun sebaliknya. Mencobalah berfikir lebih bijak, bagaimana perasaan almarhum melihat dua orang yang sama-sama dicintai itu saling berbeda pendapat bahkan berselisih. Biarkan almarhum Uje tenang, tugas kita yang hidup hanyalah terus mendo'akan beliau agar selalu diberi tempat yang sesuai oleh Tuhan disana. salam.









21 September 2013

Bukan Hanya Sekedar Kemenangan



 Indonesia dengan segala kekayaan alam dimiliki, namun masih banyak
cerita-cerita kemiskinan. Kemakmuran, kesejahteraan nampaknya masih
menjadi barang mewah yang sulit di dapatkan masyarakatnya.

Terlepas dari hal tersebut, perselihan juga banyak terjadi dengan
mengatasnamakan berbagai elemen. Ormas, sipil, sampai dalam tataran
perpolitikan nasional. Bahkan ditingkatan persepak bolaan kita, mulai
dari konflik di internal PSSI, korupsi, hingga anarkisme suporter
masing-masing kubu fanatik.

Namun inilah Indonesia, sebuah bangsa dengan tingkat pluralitas yang
tinggi. Berbagai bentuk perbedaan yang ada kemudian dikemas dalam
"Bhineka Tunggal Ika", sebuah semboyan lama yang hingga kini masih
menjadi keimanan kita dan masyarakat Indonesia secara menyeluruh.

Hal tersebut dapat dilihat saat TimNas sepak bola kita sedang berlaga
mengenakan lambang Garuda di dada. Bersatu dalam kesebelasan berjuang
di lapangan hijau, berjuang mengangkat harkat dan martabat bangsa di
mata dunia. Saat itu, masyarakat Indonesia dengan penuh harapan
kemenangan bersatu untuk mendukung. Melupakan segala bentuk konflik
perbedaan, bagi masyarakat kita kemenangan timnas adalah segalanya.

Kemarin malam, timnas U-19 kita telah berlaga melawan Timor Leste
dengan kemenangan 2-0 untuk kemenangan Indonesia. Tentu itu merupakan
sebuah kebanggaan, karena kemenangan tersebut merupakan tiket memasuki
babak final pada minggu (22/09/13).

Masyarakat Indonesia tentu akan menjadi satu suara untuk kemenangan
Timnas. Namun diluar konteks tersebut dapat kita lihat, bahwa
masyarakat kita tidak pernah benar-benar berselisih. Jiwa-jiwa
nasionalis masih sangat tinggi yang tertanam dalam diri kita semua.
Jika ada perselisihan selama ini, tentu hal tersebut sebenarnya bukan
murni dari diri mereka. Sepertinya memang hanya ulah segelintir
provokator yang menginginkan Indonesia hancur.

Masyarakat Indonesia akan tetap bersatu untuk menjaga kesatuan bangsa.
Melindungi kekayaan yang terkandung dalam perut ibu pertiwi kita. Maka
ketika ada perlawanan suatu kelompok, pasti perlawanan itu adalah
bentuk nasionalis yang nyata. Mereka hanya berusaha mempertahankan apa
yang dimiliki Indonesia.






20 May 2013

Ketika Rokok Menjadi Simbol Kesetiaan

Ketika yang golongan kontra menganggapnya sebuah perusuh kesehatan, ketika golongan kontra menganggapnya biang kerok dari penyebab radang penipisan dompet, ada bocah yang melihatnya dari sisi berbeda.



Kesetiaan kadang tidak terdeteksi dalam sebuah hubungan yang hanya berlandaskan hasrat penuh nafsu, sering kali hal-hal yang banyak orang anggap sama sekali tidak penting mampu mengajarkan sesuatu yang sangatlah berarti dalam kehidupan. Rokok misalnya, banyak orang menganggap rokok itu berbahaya bagi kelangsungan hidup, memang benar itu semua, namun itu hanyalah sebuah dampak negatif ataupun resiko yang harus ditanggung pada siapapun yang mendekatinya. dan tentu masih banyak lagi dampak-dampak yang lain, baik positif maupun negatif. semua tergantung perspektif masing-masing yang memandangnya. namun sadar atau tidak, ada sebuah pelajaran yang dapat diambil meskipun hanya dari sebatang rokok.

Yakni kesetiaan dan pengorbanannya demi kepentingan para penikmat. ini bukanlah suatu pembelaan atau sebuah rasa pecandu yang berlebih. hanya seorang insan yang mencoba mengamati realita, dan mampu mengambil sebuah manfaat meskipun dari hal yang paling berbahaya dan tidak penting. atau lebih tepatnya sebuah ungkapan dari sang penikmat rokok. selalu ada tawaran atau timbal balik yang ditawarkan oleh kesetiaan, begitu juga kesetiaan serta pengorbanan yang dilakukan oleh sosok rokok, yang setia menemani para pecandu ataupun penikmat dalam kondisi apapun, rokok rela dirinya disulut dengan api yang kemudian akan menjadikan dirinya abu yang berserakan disetiap sudut aktivitas. dia rela korbankan dirinya pada setiap orang yang mencari dan membutuhkannya.

Mungkin kita perlu balajar dari kesetiaan serta pengorbanannya, meskipun dia hanyalah sebatang rokok yang diiringi berbagai dampak. kesetiaan yang sungguh sulit ditemukan dalam kehidupan nyata sekarang ini, juga pengorbanan yang hampir tidak ada lagi ditemukan dalam setiap kisah cerita kehidupan. berusahalah setia dalam kebenaran, dan mampulah berkorban untuk kebaikan. itulah kisah cerita yang kan sangat berarti dan sangat sulit atau bahkan tidak akan pernah terlupakan.

Karena pengorbanan yang didasari penuh cinta kasih dalam kesetiaan akan berujung pada keabadian bahagia. ini hanyalah sebuah kesetiaan dan pengorbanan rokok pada kehidupan. dia mampu mencapai kesetiaan yang begitu dan pengorbanan yang tulus, karena dia tahu dirinya juga sering kali berdampak buruk. sebuah timbal balik yang cukup setimpal, antara pengorbanan dan dampak dari apa yang dikorbankan. dan selalu ingatlah selalu ada hal-hal yang positif yang dapat dilihat, meskipun dari hal-hal yang berlumur dosa ataupun yang gandrug akan sebuah manfaat. karena tidak selamanya yang buruk itu tidak memiliki manfaat dalam kehidupan, dan juga tidak selalu yang baik itu tidak memiliki cacat dalam kemuliaannya.

Bahkan Tuhan, tetap mempertahankan Ras anjing, nyamuk, dan binatang-binatang lainnya yang sering kita anggap membahayakan. karena itu semua kembali pada diri kita masing-masing untuk menyikapi sebuah problema dalam kehidupan ini. bukankah dunia ini luas, karena itu berhentilah mencaci, cukupkanlah menghakimi. karena semua keputusan dan kesimpulan ada dalam diri masing-masing individu. mulailah untuk bisa mengambil manfaat dari apapun itu, bahkan dari sebatang rokok sekalipun.

Dan jika ada pembaca yang masuk dalam kategori golongan kontra terhadap rokok, maaf tulisan saya ini sama sekali bukan untuk menyudutkan ataupun mempersempit argumen anda sekalian. Dan jika ada pembaca yang masuk dalam golongan Pro, jangan jadikan hal ini sebagai pembenaran. Tulisan disini hanya mencoba menggali sesuatu yang kerap kali dianggap merugikan, namun bukan berarti tidak memiliki manfaat.

Dengan kata lain, saya disini melalui tulisan ini hanya mengajak kepada semua orang yang biasa melihat sesuatu dari kadar negatif tanpa mempertimbangkan bahwa sesuatu tersebut juga memiliki nilai positif, meskipun nilai positif tersebut dalam perspektif yang sedikit berbeda. Dari sini, semoga anda sekalian yang terbiasa mengeluh atau menyalahkan keadaan, mungkin perlu membaca ini sebagai bahan perenungan. Bahwa setiap kejadian pasti memiliki hikmah yang positif, bahwa Tuhan pasti punya maksud tertentu meskipun dari hal yang justru membuat kita sakit sekalipun. Singkatnya, tidak ada alasan buat kita berhenti belajar dan tidak ada alasan juga buat kita tidak mengucap syukur dari apa yang sudah kita punya. Salam.

29 April 2013

Ruang Sebelah Memang Lebih Menarik (keberadaan peng-kritik)

Ruang Sebelah Memang Lebih Menarik (keberadaan peng-kritik).
[menulis]Dalam dewasa ini, kita sudah cukup tahu dan paham. Mengenai bagaimana sebuah kebebasan itu ada disekitar kita. Berangkat dari konsepsi tersebut, kita tahu bagaimana keberadaan sebuah komunitas begitu banyak ragamnya. Mulai dari komunitas yang hanya merupakan suatu kesamaan hobi sampai pada komunitas yang bersifat profit.

Menarik sebenarnya, ketika kita membicarakan sebuah komunitas dan coba disinkronkan dengan azas kebebasan. Apa yang mendasari hal ini sebenarnya?

Dari pertanyaan yang sederhana itu kemudian banyak muncul asumsi, anggapan, opini, hingga faham/ideologi suatu komunitas. Sejak berakhirnya masa Orde Baru, masyarakat kita seolah merindukan sangat dengan yang namanya berserikat. Sebab, selama Orde Baru kebebsan masyarakat dalam hal berserikat sangatlah terbatas. Namun benarkah sekarang kita benar-benar mengalami kebebasan yang benar-benar bebas? terutama dalam ranah berserikat.

Namun kita tidak akan berkutak diwilayah itu, melainkan saya akan mengajak sobat untuk sedikit melihat ruang sebelah dari sebuah komunitas. Apa yang ada diruang sebelah? kenapa kita meski kesana? Bukan kah ruang tengah lebih luas?.

Bagi saya, ruang sebelah merupakan sebuah tempat atau ruangan yang cukup memiliki daya tarik. Namun daya tarik disini bukan daya tarik untuk memasukinya, melainkan hanya sebatas mengintip dari luar.

Komunitas atau Organisasi sejatinya hanyalah sebuah wadah, tempat, atau semacam fasilitas untuk orang-orang didalamnya berkembang. Karena itu dalam sebuah komunitas atau organisasi perbedaan pandangan, perbedaan persepsi, merupakan hal yang wajar terjadi.

Mengingat kemajuan zaman yang juga insya Alloh dibarengi dengan kemajuan keilmuan, keberadaan struktur dalam komunitas atau organisasi disebut-sebut menjadi hal yang urgen. Hal ini guna mendukung kinerja-kinerja yang lebih sistematis.

Setelah adanya struktur dalam komunitas, jelas hal tersebut memiliki pengaruh yang positif terhadap komunitas itu sendiri. Namun, disisi lain dikarenakan adanya hal tersebut dalam suatu komunitas atau organisasi, nampaknya ruang sebelah juga menjadi lebih memiliki daya tarik. Kenapa demikian? Struktur dalam komunitas atau organisasi merupakan sebuah tumpuan atau bahkan penutan terhadap maju tidaknya sebuah komunitas. Atau sederhananya struktur berisi orang-orang yang memiliki tanggungjawab penuh terhadap hidup matinya sebuah komunitas.

Oke, jika komunitas atau organisasinya merupakan yang memiliki orientasi profit. Dalam artian memiliki penghasilan guna memenuhi kebutuhan orang-orang yang duduk dalam ranah struktur, jika demikian pasti banyak yang berminat.

Namun akan berbeda, jika komunitas atau organisasi tersebut merupakan non profit alias sosial. Saya yakin, masing-masing individu akan saling dorong kepada yang lain untuk memimpin. Dari sinilah saya simpulkan, bahwa ruang sebelah lebih memiliki daya tarik. Apa isi ruang sebelah? yaitu orang-orang yang lebih suka bilang "biar saya nanti yang bekerja dibelakang layar saja". Tapi jangan anggap hal ini negatif, ini merupakan hal yang sangat positif dengan catatan benar-benar komitmen dengan ucapan.

Kemudian, ruang sebelah yang lain yang dalam hal ini lebih bersifat negatif menurut hemat saya adalah ruang yang berisi orang-orang pro kritik. Dalam sebuah kepengurusan komunitas atau organisasi kritik sejatinya merupakan ruh utama yang menjadikan lebih baik. Tentu hal tersebut jika dibarengi dengan sebuah solusi yang solutif.

Namun, ruang sebelah yang memiliki daya tarik disini bukanlah yang berisi pengkritik dengan dibarengi sebuah solusi. Melainkan hanya berakhir di kritik. Dalam artian, hanya memberikan kritik saja dan setelah itu membiarkan yang dikritik membusuk dengan hasil kritikannya. Sementara solusi merupakan sebuah anggapan yang abstrak dan bias.

28 April 2013

Tentang Persahabatan


[menulis]Persahabatan merupakan sebuah hubungan yang berlandaskan ketulusan, bukan keterpaksaan, ataupun sebuah dalih untuk mengatasnamakan cinta, karena cinta dan kasih sayang pasti ada didalam persahabatan. Sangat disayangkan jika persahabatan ternoda hanya karena mengedepankan ego demi kepentingan sendiri, tentu al-hasil bercak noda perselisihan pun bakal terlahir dalam kisah cerita persahabatan.

Dalam kehidupan tentu kita sering mendengar sebuah hubungan persahabatan, namun perlu dipertanyakan kembali jika kita melihat kata-kata persahabatan dalam kehidupan sekarang, karena sebenarnya banyak yang baru mencapai tahap pertemanan bukan persahabatan.

Realitasnya pun banyak yang sebenarnya memiliki misi tertentu kemudian mengatasnamakan persahabatan, hal seperti ini biasanya terjadi pada persahabatan lawan jenis. Mereka sebenarnya hanya menjadikan persahabatan sebagai wadah ajang penyalur hansyrat mereka masing2, yach. . .tentu ini merupakan segelincir kasus dari kisah persahabatan, dalam artian tidak semua hubungan persahabatan memiliki misi seperti itu. 

Dalam sebuah persahabatan juga sering kali terjadi kecemburuan, layaknya dalam kisah sepasang kekasih. Sebagian besar mereka memiliki pandangan bahwa dalam kisah persahabatan harus selalu bersama, setiap pergi pun harus selalu bersama tanpa ada yang ketinggalan tidak ikut.

Hal seperti ini yang sering kali menjadikan sebuah awal perselisihan dalam kisah persahabatab zaman sekarang. Padahal, dalam sebuah hubungan persahabatan sangatlah berbeda dengan selayaknya hubungan sepasang kekasih, dalam persahabatan hanya membutuhkan ketulusan dan saling mengerti, serta saling menghargai satu sama lain.

Sama sebenarnya dengan hubungan hidup bermasyarakat pada umumnya, hanya saja hubungan persahabatan disatukan sama kecocokan atau kesamaan, misalnya memiliki kecocokan dalam hal hoby, sehingga mempunyai pandangan bahwa ada kesamaan yang membuat nyaman saat bersama, tentu banyak lagi kesamaan ataupun kecocokan yang melatar belakangi sebuah hubungan persahabatan. Namun kesamaan yang sering terjadi untuk melopori sebuah hubungan persahabatan adalah sikap serta ideology, ataupun sifat satu sama lain, sehingga sering kali melahirkan perkumpulan-perkumpulan kemudian terjalin sebuah persahabatan, bahkan sebuah ikatan persaudaraan atau keluarga.

Misalnya banyak yang memiliki kecocokan dalam hal kesenangan, seperti sama-sama suka nongkrong ataupu yang lainnya. Namun sebuah persahabatan yang paling membanggakan adalah sebuah persahabatab yang memiliki banyak perbedaan, tetapi bersatu dalam persahabatan. Karena jika dalam hal ini pastilah hubungan tersebut berlandaskan ketulusan serta keikhlasan dan juga saling melengkapi kekurangan satu sama lain.

Dengan kata lain mampu berbagi kelebihan masing-masing diantara mereka. Al-hasil pun terjalin lah sebuah hubungan yang memiliki manfaat bagi menjalaninya, tentu persahabatan yang seperti ini sangatlah jarang ditemui dalam realitas sekarang, kecuali dalam sebuah organisasi-organisasi yang kemudian melahirkan kecocokan dalam sudut pandang, sehingga terjalin sebuah hubungan yang sangat dekat bahkan seperti saudara. Tentu jika dalam persahabatan sebuah organisasi, terjadi karena ada faktor yang kuat untuk menyatukan dalam kedekatan yakni ideology organisasi yang ada.


Sangat banyak memang faktor-faktor yang melahirkan sebuah hubungan persahabatan dalam realitas sekarang. Namun sangatlah disayangkan bagi kelompok-kelompok tertentu yang mengatas namakan persahabatan yang sebenarnya hanya akan menjadikan penyalur kepentingan-kepentingan tidak baik. Ingat persahabatan sebenarnya hanya membutuhkan tiket ketulusan dan saling menghargai satu sama lain dan tentunya saling mengerti.

Dapatkan tiket tersebut dalam hati nurani yang paling dalam, karena hanya disitu tiket ketulusan itu ada bukan pada ego ataupun hasyrat masing-masing individu. Menelaah Tentang Persahabatan bukan hanya sekedar teman ataupun perkumpulan suatu kelompok saja. Melainkan jauh lebih dari itu.

27 April 2013

Kisah Negri Yang Lucu



[menulis]Dalam deru nafas yang memburu, menerkam setiap dinding kehidupan menuju peti mati dengan tanda batu nisan. Selayaknya kematian yang tak terelakan keberadanya, sebuah kisah memukau para pujangga, sebuah legenda yang memilukan dengan iringan air mata kemenagan. Tidak ada semua itu, dan lebih tepatnya bukan itu yang bercerita kini, kebingungan serta kegelisahan seakan terus menyapa dan menyapa. Masing-masing dengan nada serta intonasi berbeda dengan yang biasa disebut ketenangan. Sangat jauh dari itu semua, bahkan sebuah kisah tersayat akibat kisah kehidupan yang miris.


Banyak bocah melintang tanpa alas kaki, disampinngnya melangkah dengan angkuh sepatu mahalnya. Banyak orang tua merintih menahan lapar, sedang diujung jalan para ibu sibuk dengan arisan serta tawa penuh kesinisan. Banyak seorang ayah yang melalang buana dengan bekal keranjang serta besi penjempit mencari nafkah diantara tumpukan sampah, namun diatas sana semua sibuk saling melempar tanggung jawab dan spekulasi wilayah kekuasaan partai. Ketentraman dalam kehidupan bersama mungkin saat ini menjadi hal yang kosong, bulshit!! Keberadaan dalam lahan sendiri, namun seolah menghirup nafas diantara racun serta kubangan neraka.

Dalam setiap sudut kota dilumuri dengan pertikaian sengketa tanah, pertikaian antar kelompok yang tidak jelas asal-usulnya. Siapa yang benar?siapa yang salah?tidak ada yang tahu. Semua mengaku benar, semua mengaku tidak bersalah, dan semua mengaku memiliki hak. Yang jelas disini kisah itu nyata, disebuah negeri yang lucu. Negri yang berkoar ketentraman, namun lebih baik itu disimpan dalam imajinasi masing-masing pelaku. Kritikan yang terbangun dari sudut lapar hanya dianggap bualan tidak berguna, dan ujung-ujungnya sang pengkritik adalah seorang pidana. Hukum??dia telah mati dalam kebekuan, dan berdebu diantara rak-rak pegadaian. Sungguh negri yang ironis lucu, penuh impian yang tinggi namun kenyataan berkata lain. Kata lapar, dianggap nyanyian merdu yang memuaskan, bagi mereka yang sibuk dengan masalah undang-undang. Selalu penataan dan penataan, selalu system birokrasi yang menjengkelkan. Berbelit-belit, ribet, bahkan membuat orang bertemu dan bersanding dengan batu nisan dengan tertuliskan namanya.

Jika seorang yang hidup pun mengalami penggusuran, dan tentu itu akan mengalami perlawanan atas korban yang tergusur. Namun bagaimana dengan penggusuran orang-orang yang sudah beristirahat dibalik nisan?apa mereka akan melawan, jika iya bagaimana caranya. Sungguh lucu teman, dan sangat ironis. Bahkan kehidupan manusia dibalik nisanpun masih saja diusik untuk kepentingan perluasan kekuasaan.
Layak kiranya jika kebosanan itu terlahir, dan kehidupan ini khususnya dalam negeri ini, kaya memang dengan sumber daya alam. Namun miskin, sangat miskin dengan kejujuran berkehidupan bersama. Sungguh ironis nasibmu negri, negri yang mengkhayal sebuah ketentraman, negri yang berkoar berpri kemanusiaan, negri yang katanya menjunjung tinggi asas keadilan.


Membiarkan orang-orang mati hanya karena lapar, menggusur peristirahatan dibalik nisan, apakah itu wujud berpri kemanusiaan?perut para pejabat yang terus membuncit akibat perampasan hak orang banyak, apakah itu wujud keadilan dari sebuah negeri hukum? Lucu sekali negri ini, ironis. Penjajahan dengan pola baru yang lebih modern, tanpa membuat orang-orang merasa sedang dijajah, nampaknya memang cukup pesat perkembangannya. Bahkan para petinggi sendiri justru ikut menggerogoti nadi-nadi bumi yang subur ini.


Saat tangisan membanjiri berbagai wilayah akibat bencana, lagi-lagi penyaluran para dermawan yang tersentuh untuk membantu nampaknya justru menjadi lahan garapan yang empuk untuk mengalirkannya pada perut sendiri. Sekali turun, juga karena kepentingan perluasan wilayah perpolitikan. Ah...negri yang cukup lucu jika kebenarannya demikian itu, SEMOGA tak terjadi pada negri ku ini. Kehidupan bersama, yang katanya menjadi penopang awal bangunan dasar manusia hidup mulai terkikis. Hanya kepentingan-kepentingan pribadi individu atau suatu kelompok dalam memajukan kekayaan pribadi serta membuncitkan perut.

Tangis mereka menjadi lahan garapan empuk, tangis mereka diajadikan lahan kampanye yang menjajikan. Sungguh aneh bin ajaib, tapi itu nyata dalam kisah negri yang lucu ini. Dimana saat orang-orang saling berhimpitan demi secangkir beras, mereka yang memiliki kewenangan malah asyik dengan persengkongkolan si penyebab miskin. Dan bersembunyi dibalik jas munafiknya dengan tawa penuh keagkuhan. Lagi-lagi inilah sebuah kisah negri yang lucu, dan semoga Tuhan memberikan ampunan dengan ganjaran yang setimpal atas penyalah gunaan itu semua.

Dan inilah, sebuah kisah negri yang lucu. Kisah negriku, bagaimana dengan negrimu kawan??

26 April 2013

Kampusku, Mahasiswanya Tukang Demo

[Menulis]. Yogyakarta, selain terkenal dengan kota wisata daerah ini juga terkenal dengan kota pelajar. Pasalnya dalam kota dengan semboyan berhati nyaman ini terdapat ribuan remaja penimba ilmu dari berbagai latar belakang.

Bahkan, hampir ada dari setiap perwakilan masing-masing daerah di Indonesia. Kota yang terkenal dengan nasi gudegnya ini memang mendapat pengakuan dari masyarakat luas tentang sektor pendidikannya. Ada banyak perguruan tinggi dengan disiplin ilmu yang beragam.

Salah satu perguruan tinggi yang cukup familiar dikota istimewa ini adalah UIN. Sebuah perguruan tinggi yang berlandaskan agama dalam pengembangan intelektual mahasiswanya. Selain itu, perguruan tinggi tersebut juga disebut-sebut sebagai perguruan tinggi dengan biaya murah atau bahkan ada yang menyebutnya sebagai kampus termurah namun bukan murahan.

Sebab, sejak sebelum berevolusi dari IAIN menjadi UIN seperti sekarang biayanya tidak sampai satu juta. Kampus tersebut juga terkenal sebagai kampus putih. Kampus yang kerap kali berani dalam mengkritisi kebijakan, baik dalam skup kampus maupun nasional. Realita tersebut bahkan berkembang, diranah masyarakat luas misalnya. Kampus ini dikenal sebagai kampus yang mahasiswanya tukang demo.

Sementara, paradigma berfikir masyarakat mengenai tukang demo identik dengan hal-hal negatif. Seperti biang kerok, perusuh, perusak dan lain sebagainya.

Mahasiswa sejatinya merupakan kelompok para manusia yang bisa jadi lebih beruntung. Sebab, mereka dinilai lebih banyak memiliki waktu luang untuk mengasah kemampuan. Seperti pengertian kata sekolah versi yunani yang berarti waktu luang.

Paradigma masyarakat yang demikian tentu memiliki nilai negatif. Selain, hal itu dapat menurunkan citra kampus juga dapat berdampak pada psikis mahasiswanya. Dengan asumsi tersebut, membuat sebagian mahasiswanya kadang merasa tak percaya diri dengan kampusnya sendiri.

Namun demikian, nampaknya anggapan masyarakat yang terkesan memojokan tersebut bukanlah sebuah aib. Sebaliknya, hal tersebut merupakan point plus tersendiri, khususnya dalam pandangan organisasi perlawanan itu sendiri.

Pasalnya, belakangan gerakan mahasiswa diwacanakan mengalami kemandulan atau dalam bahasa lain tengah mengalami degradasi perjuangan. Sementara dalam analisa, Yogyakarta disebut-sebut sebagai tolak ukur pergerakan, dalam hal ini melingkupi UGM dan UIN. Maka, menjadi hal yang membanggakan ketika dalam kedua Universitas tersebut pergerakan masih cukup masif. Dengan begitu, pergerakan dalam tingkat nasional masih memiliki daya tawar dalam konsistensi perjuangan.

Semoga gerakan mahasiswa merupakan gerakan murni yang memang berpihak pada kebenaran. Bukan hanya sebagai ajang narsis eksistensi diri atau kelompok tertentu. Perjuangan memang suatu hal yang wajib adanya, sebab perubahan ke arah lebih baik merupakan sesuatu hal yang harus di imani dalam diri setiap insan.

22 April 2011

Tanaman dengan Aura 'Romeo'

masih ingat dengan kisah romeo dalam memperjuangkan cintanya pada juliet??bagaimana kisah cinta yang diakhiri dengan sehidup semati oleh romeo dan juliet, sungguh begitu menyenyuh bukan kisah kasih mereka. romeo, merupakan sosok melancolis yang tetap tegar dalam memperjuangkan cinta juliet. kira-kira begitu lah cerita mereka, mungkin sahabat sekalian lebih faham dengan ceritanya romeo dan juliet.hehe
yang jelas nama itu kini juga disandang oleh tanaman hias satu ini.
 aglaonema 'romeo' begitu tanaman hias satu ini akrab disapa oleh para penggemar dan kolektornya. nama aglaonema 'romeo' terkait erat dengan kisah romantis Romeo and Juliet, sebuah drama klasik karya shakes peare yang sangat populer. entah atas dasar apa nama itu muncul, namun konon nama itu diberikan pada tanaman hias ini karena aura yang dipancarkan oleh keindahannya mampu membuat orang turut merasakan getaran cinta seorang romeo. 

yang jelas gelar romeo sudah disandangnya sejak 2005 silam. tanaman yang berasal dari negara thailand ini memiliki harga yang relatif, tergantung banyak sedikitnya daun yang sudah tumbuh, semakin banyak daun maka semakin mahal maka semakin memiliki daya tawar dipasaran tanaman hias. namun tanaman aglaonema ini tidak begitu memiliki perbedaan dalam perawatannya dengan tanaman-tanaman hias lain. hanya cukup mendapat perhatian sedikit lebih, baik dalam penyiraman, pemupukan, hingga saat membersihkan daunnya. bagi anda para kolektor tanaman hias, sudahkah ada romeo dalam koleksi taman anda??jika belum, jangan ragu untuk segera menambahkan koleksi anda dengan romeo ini. biar selalu ada ketegaran cinta romeo diantara tanaman-tanaman anda yang lainnya

Tanaman Menari 'jaipong'

Pernah mendengar nama tarian jaipong??
tentu pernah, tarian yang berasal dari jawa barat itu memiliki has tersendiri, yakni lenggak-lenggok badan seorang penari yang cukup gemulai dan indah itu. salah satu budaya kita itu memang sudah cukup tenar dalam kehidupan sehari-hari, dan tentu masih banyak jenis tarian lain yang bangsa ini miliki. dari sabang sampai merauke sangatlah luas, dan masing-masing daerah tentu memiliki ciri has budaya tersendiri, entah itu dari segi tarian, lagu, adat, dan masih banyak lagi, mungkin satu hari belum cukup waktu untuk menghirungnya.

bagi para pecinta dan kolektor tanaman hias, gambar tanaman diatas tentu sudah tidak asing lagi. sebuah tanaman yang memiliki nama latin anthurium jenmanii atau lebih dikenal dengan anthurium 'jaipong'. cukup unik memang gelar yang kasihkan kepada tanaman satu ini, namun bukan tanpa alasan julukan yang dikasihkan itu. secara sepintas tanaman ini memang tidak jauh berbeda dengan anthurium lainnya, namun jika diamati lebih seksama daun tanaman ini memiliki lekukan-lekukan yang sangat gemulai selayaknya tarian 'jaipong'. karena itu lah tanaman hias yang satu ini mendapat julukan anthurium jaipong. karena keunikannya itu, tanaman ini pun cukup laku dipasaran, tidak tanggung-tanggung harga yang bandrolkan terhadap tanaman ini pun cukup merogoh kantong. siapa yang mengira, kalau tanaman tersebut berharga jutaan rupiah.

kendati demikian mahalnya tanaman ini, namun anthurium jaipong tidak begitu suka dengan perlakuan yang istimewa dari pemiliknya, dalam artian seperti karantina diruangan tertentu, atau pemisahan dari tanaman yang lain karena takut rusak. kekhawatiran itu memang bagus, tapi jika berlebih itu justru berakibat fatal. anthurium jaipong ini tidak bisa lepas dari faktor lingkungan dan sirkulasi angin yang baik.
Faktor lingkungan biasanya berpengaruh pada suhu, temperatur, dan kelembaban lingkungan hingga sistem pencahayaan. Sedangkan sistem sirkulasi udara, termasuk arah angin masuk dan keluar serta besaran kecepatan angin yang disarankan. Sistem pencahayaan yang baik adalah sekitar 60%, dengan kelembaban cenderung tinggi dan temperatur antara 200sampai 27C. Untuk itulah jika ingin mengkarantina anthurium, sebaiknya perhatikan beberapa persyaratan tersebut jika Anda tak ingin kecewa di kemudian hari. untuk itu bagi anda yang berniat memelihara tanaman penari ini, alangkah baiknya mempelajari cara perawatan yang baik dan benar.

28 October 2010

INDAHNYA HIDUP

seperti apa kita sebenarnya dalam memaknai hidup??
yach...berawal dari kalimat yang sederhana itu lah kemudian banyak bermunculan persepsi. seperti dalam postingan saya yang sebelumnya bahwa hidup itu pilihan dan pilihan itu resiko, dan juga persepsi lain yang berargumen bahwa hidup itu indah. dan dari sini akan muncul lagi berbagai pertanyaan yang terkait dengan hidup itu indah. keindahan yang seperti apa yang dimaksud dalam pemaknaan hidup disini??

apakah keindahan yang bersifat menyeluruh atau hanya keindahan yang berlaku bagi golongan/kelompok tertentu. sebelum kita kearah sana, alangkah lebih efektifnya jika kita saling memahami esensi tujuan kita hidup. kebahagiaan kah, atau keindahan kah, atau hanya sebatas hidup kemudian mati dan selesai semuanya. apapun itu saya rasa masing-masing dari kita mampu menelaah apa yang menjadi tujuan kita bersama dalam menjalani hidup, tentu dalam hal ini tidaklah lepas dari unsur kebaikan yang kemudian berimbas pada kebahagiaan serta dikemas dengan keindahan-keindahan tertentu.
mungkin berawal dari situ akan diketemukan kenapa muncul asumsi bahwa hidup itu indah. dan keindahan itu bukan terletak pada panjang pendeknya umur, atau pada miskin dan kaya harta, bahkan tinggi tidaknya jabatan. melainkan terletak pada cara menuju puncak kesuksesan, karena banyak sekali orang yang mencapai tahap sukses tersebut, namun sangat sedikit yang menggunakan cara-cara baik. atau cara-cara yang tanpa menghilangkan nilai-nilai nurani. dalam kata lain bisa dikatakan keindahan itu terletak pada proses kita dalam menjalani hidup. dan berangkat dari sebab akibat, maka muncullah keyakinan bahwa kehidupan bersifat berkelanjutan. tidak hanya berhenti pada kematian disini saja. keindahan tersebut akan dirasakan ketika menjalani hidup dengan suka cita, kesungguhan dalam berusaha. jika memang demikian, lantas bagaimana dengan permasalahan-permasalahan yang akan dihadapi dalam kehidupan??yach...lagi-lagi saya katakan proses lah yang menjadikan keindahan itu akan dirasakan.
permasalahan merupakan bumbu dalam kehidupan, tinggal bagaimana cara penyikapan kita terhadap permasalahan tersebut. akan terpuruk kah atau justru akan semakin tegar dan dewasa. nah, disini lah letak keindahan itu yang paling nampak. yakni ketika menyikapi permasalahan dengan penuh kedewasaa. serta harapan-harapan pasti yang menjadi keimanan dalam kita menjalani kehidupan. dalam hal ini sering terjadi kekeliruan saat menyikapinya, bahkan sering juga dilakukan hal-hal yang ekstrim, seperti mencoba nebgakhiri hidupnya. yang demikian itulah yang tidak menemukan keindahan dalam kehidupan. biasanya didasari oleh tidak adanya harapan yang jelas. 

sehingga harapan itu tidak mampu memotivasi diri untuk terus bergerak maju, tanpa mengenal lelah. karena itu saya menegaskan bahwa harapan itu penting, harapan yang mampu memotivasi untuk terus bergerak maju dalam kebaikan, bukan harapan yang justru akan menjatuhkan pada jurang keterpurukan. sekali lagi keindahan dalam hidup itu terletak pada cara/proses menjalani kehidupan itu sendiri. bukan terletak pada tahapan akhir. jalani kehidupan dengan penuh suka cita dalam mencapai keberhasilan dari wujud harapan.

16 July 2010

ketika alam berbicara

keserahan manusia semakin merajai diri setiap manusia. dalam benak manusia yang ada hanya bagaimana dia mampu menciptakan sesuatu, mendapatkan apa dia inginkan. semua berlomba-lomba dalam sebuah kekuasaan. memaksakan diri agar mampu ikut bersaing dengan dalam kakayaan, meski harus mengorbankan keluarga, bahkan mungkin harus mengorbankan sebuah kehormatan harga diri. tidak ada terang yang terpancar dalam pandangan mereka. semua tertutup oleh rasa dahaga yang begitu besar akan sebuah kekuasaan. banyak keindahan-keindahan alam yang kemudian digantikan dengan polusi-polusi serta limbah pabrik tanpa memperhitungkan sebuah dampak dalam kehidupan bersama. mereka hanya memperhitungkan akan kekenyangan perut-perut mereka sendiri.

saling berperang dengan kemajuan technology untuk menciptakan gedung-gedung pencakar langit. dengan keuntungan yang mereka raup dari hasil memperkosa ibu pertiwi dengan penuh serakah dan rakus. tanpa adanya dasar sebuah cinta untuk menjaga keelokan setiap sudut alam. mata nereka memang telah dibutakan oleh hasrat mereka sendiri untuk berkuasa, hati nurani yang telah mati tertembak oleh uang yang entah dari mana saja mereka dapatkan. alam yang tadinya hanya pasrah ketika mereka keruk semua yang ada pun mulai memperingatkan manusia. jika manusia punya ambisi untuk memperkaya diri dengan kekuasaan dan harta, alam pun mempunyai murka yang sangat mengerikan, hingga mampu menciptakan lautan air mata kehilangan sanak keluarga. mampu merobek kesunyian menjadi gemuruh rintih tangis.

dan juga mampu merubah wanginya hidup menjadi bau amis tanpa kehidupan, yang ada hanyalah bangkai-bangkai yang menjadi santapan para lalat. bangkai yang terbujur membusuk dengan keserakahan serta ulahnya sendiri. tidak ada ampun bagi siapapun ketika alam murka, setelah kerusakan-kerusakan yang telah manusia kasihkan sebagai balasan atas keindahan yang alam suguhkan dalam kehidupan. ironisnya, amukan alam yang sudah sering terjadi tidak membuat manusia jera, mereka selala dan selalu memperkosa ibu pertiwi, tanpa kenal nurani. "wahai kalian manusia semua, sayangilah aku seperti aku menyayangi kalian dengan apa yang aku suguhkan untuk kalian" begitu kira-kira gumam alam yang terngaung dalam hembus angin, untuk mencoba mengingatkan manusia dengan memohon. namun hasrat yang sudah semakin naik dalam diri manusia untuk mencapai apa yang mereka inginkan, tidak mampu mendengar gumam alam. lalu bersiaplah kalian manusia untuk menghadapi murka alam selanjutnya, karena alam akan mengungkapkan kekesalannya penuh murka, selagi masih terus diperkosa oleh para manusia.

08 June 2010

murka alam

keserahan manusia semakin merajai diri setiap manusia. dalam benak manusia yang ada hanya bagaimana dia mampu menciptakan sesuatu, mendapatkan apa dia inginkan. semua berlomba-lomba dalam sebuah kekuasaan. memaksakan diri agar mampu ikut bersaing dengan dalam kakayaan, meski harus mengorbankan keluarga, bahkan mungkin harus mengorbankan sebuah kehormatan harga diri. tidak ada terang yang terpancar dalam pandangan mereka. semua tertutup oleh rasa dahaga yang begitu besar akan sebuah kekuasaan. banyak keindahan-keindahan alam yang kemudian digantikan dengan polusi-polusi serta limbah pabrik tanpa memperhitungkan sebuah dampak dalam kehidupan bersama. mereka hanya memperhitungkan akan kekenyangan perut-perut mereka sendiri. saling berperang dengan kemajuan technology untuk menciptakan gedung-gedung pencakar langit.
 
dengan keuntungan yang mereka raup dari hasil memperkosa ibu pertiwi dengan penuh serakah dan rakus. tanpa adanya dasar sebuah cinta untuk menjaga keelokan setiap sudut alam. mata nereka memang telah dibutakan oleh hasrat mereka sendiri untuk berkuasa, hati nurani yang telah mati tertembak oleh uang yang entah dari mana saja mereka dapatkan. alam yang tadinya hanya pasrah ketika mereka keruk semua yang ada pun mulai memperingatkan manusia. jika manusia punya ambisi untuk memperkaya diri dengan kekuasaan dan harta, alam pun mempunyai murka yang sangat mengerikan, hingga mampu menciptakan lautan air mata kehilangan sanak keluarga. mampu merobek kesunyian menjadi gemuruh rintih tangis. 
 
dan juga mampu merubah wanginya hidup menjadi bau amis tanpa kehidupan, yang ada hanyalah bangkai-bangkai yang menjadi santapan para lalat. bangkai yang terbujur membusuk dengan keserakahan serta ulahnya sendiri. tidak ada ampun bagi siapapun ketika alam murka, setelah kerusakan-kerusakan yang telah manusia kasihkan sebagai balasan atas keindahan yang alam suguhkan dalam kehidupan. ironisnya, amukan alam yang sudah sering terjadi tidak membuat manusia jera, mereka selala dan selalu memperkosa ibu pertiwi, tanpa kenal nurani. "wahai kalian manusia semua, sayangilah aku seperti aku menyayangi kalian dengan apa yang aku suguhkan untuk kalian" begitu kira-kira gumam alam yang terngaung dalam hembus angin, untuk mencoba mengingatkan manusia dengan memohon. namun hasrat yang sudah semakin naik dalam diri manusia untuk mencapai apa yang mereka inginkan, tidak mampu mendengar gumam alam. lalu bersiaplah kalian manusia untuk menghadapi murka alam selanjutnya, karena alam akan mengungkapkan kekesalannya penuh murka, selagi masih terus diperkosa oleh para manusia.