Belajar Menulis, dokumentasi pemikiran perjalanan hidup.

15 September 2011

Teriakan Dibalik Lorong


esensinya tak ada diam disini
bahkan terlalu bising dengan teriakan
namun...
entah ini bising dengan isyarat
atau tuli dengan sengaja disana
air mata dianggap gurauan
rasa pedih dibilang palsu
sedang disini sangatlah merindu
lantas pada siapa
ini semua dijelaskan
sedang yang menjadi harapan
kian acuh dan tuli
tapi sayang...
terlalu bodoh kau berpura-pura
karena hamba tahu
itu disengaja
kekosongan terus memerangi
peringai tanpa perisai
terlalu sederhana dengan baju perang
hanya bermodal keyakinan
jika kata mampu patahkan pedang
tapi bagaimana...
sedang mulut bungkam disumbat
ketidakberdayaan

cukup sering terjadi pembrontakan
untuk menyalahkan Tuhan
karena ini ketidak adilan
tapi itu terlalu sembrono
dan pencarian akal terhadap kebenaran
menjadi penolong untuk dikatakan syirik
karena disini berkeyakinan
engkau lah penyebabnya
engkau lah....
engkau menyayat sadis
kebahagiaan menjadi kepedihan
engkau yang menjegal brutal
udara untuk bernafas

tak peduli!!
sangat tak peduli...
meski air mata menjadi makanan pokok
dan darahpun menjadi hal yang sangat biasa
karena nyawa menjadi satu-satunya kepunyaan
meski harus dikorbankan







september akhir, sebagai awalan dalam 60 hari menulis puisi
dalam toples lembaran lama tetesan tinta

0 komentar:

Post a Comment