Belajar Menulis, dokumentasi pemikiran perjalanan hidup.

29 October 2011

Sesatku Dibelantara Ilalang



aku tertegun memandang pelataran ilalang yang tandus.
disana, 
bahkan kunang-kunang seolah enggan berpijar
sekedar memberiku petunjuk jalan menuju terang
gelap, semua gelap.

pandangan yang tertahan dalam raba
hanya itu risalah ikhtiar yang aku lakukan
diantara ranting-ranting busuk langkah ini menapak
menyusuri rimba pertempuran yang begitu berat
letihku menyudut pada peraduan asa
berlahan terus memaksa ku menghampiri itu
dalam nada samar
terdengar kacau
berisik
ah...lebih tepatnya itu hanya seekor anjing yang melonglong sinis. buas.

melangkah asal
sungguh membuatku nyasar begitu jauh
sedang kesadaran ku masih belum mampu menyadarkan
bahwa kekotoran hati mengawali penyesatan ini
purnama, yang biasa orang anggap sempurnahilang tanpa bekas
mungkin telah terpaut diantara selangkangan gerhana
atau menunduk dibalik bukit sambil mengintipku penuh ejekan. 
peduli apa dengan purnama!!


setidaknya menemukan kunang-kunang untuk menerangi hati
agar aku tak lagi buta pada diriku
agar aku segera menyudahi sesat hatiku
aku hanya ingin mampu menatap jalan ku

Tuhan...
seribu kalinya aku menyebut-Mu
berjuta kalinya aku mengingat-MU
namun lagi-lagi ada permintaan darikuah...
dimana orang-orang yang dikatakan iman
dimana itu ada dalam diriku
saat aku hanya mengingat MU dalam susahku.

ilalang...
tahukah kaukalau aku bosan dengan sesatku ini
aku ingin melangkah pada rumput yang hijau, terang, indah.

dengan langkah kepastian
dengan langkah yang ku bimbing
untuk ku
untuk nya yang terkasih
untuk kita dalam jalan yang berlabel 'halal'
dan dalam bingkai do'a restu.








september akhir, sebagai awalan dalam 60 hari menulis puisi 
dalam toples lembaran lama tetesan tinta

0 komentar:

Post a Comment