Belajar Menulis, dokumentasi pemikiran perjalanan hidup.

20 September 2012

Semesta dalam Jejak Sajak


saat itu, aku masih terpejam lugu
keasrian semesta baru ku kenal lewat cerita ayah dan ibu
namun aku suka, aku senang

disana, aku mengenal harapan
disana, aku mengerti mimpi-mimpi
tapi sayang, saat itu aku benar-benar masih terpejam
bahkan badanku masih lemah dipangkuan seorang ibu

aku senang saat ibu sedang berkisah tentang embun pagi diujung daun ketapang

aku senang saat ayah berkisah tentang birunya laut dengan ikan-ikan yang tersangkut di jalanya

aku senang saat kakek bercerita tentang kegagahannya menusuk kolonial dengan runcingnya bambu belakang rumah

dan aku sangat senang saat nenek bercerita tentang jalan-jalan kecil persawahan sejuk dengan hijaunya rerumputan

tapi kini,
kini aku tidak senang dengan semua kibulan orang-orang dusta
aku marah dalam kebencian mendendam
aku benci dalam kekalapan emosi

yah, aku benci manusia-manusia pendusta yang suka inkari janjinya
yang sudah memberangus semua kenangan indah

cerita ibuku tentang embun
kisah ayahku tentang lautan dan ikan-ikan
sejarah kakek ku yang pahlawan dengan kegagahannya
juga kesaksian nenek ku tentang keasrian semesta
semua itu hilang dari pandangan seorang aku yang sekarang mengenal kebencian

tiada lagi embun di ujung daun ketapang seperti kata ibu
tiada lagi lautan biru dan ikan-ikan yang menyangkut di jala seperti cerita ayahku
tiada lagi pahlawan yang berani seperti kisah kakek ku
bahkan tiada lagi keasrian persawahan seperti kesaksian nenek ku

semua hilang sirna menjelma bangunan-bangunan megah yang angkuh
biru telah keruh menjelma bongkahan-bongkahan kapal yang mengeruk tambang
keasrian telah pudar menjelma polusi-polusi pabrik bangsa tetangga juga di pangkas kerakusan manusia-manusia pengobral janji
kegagahan pahlawan telah menjelma kepentingan kekuasaan semata

lalu, harus kemana ku sandarkan kebencianku ini
ibu ku??
dia terlalu mulia untuk ku benci

ayahku??
dia terlalu jujur dengan jalanya yang mulai robek

kakek ku??
dia terlalu baik sekedar untuk dikatakan pahlawan

nenek ku??
dia terlalu banyak mengajari ku arti persahabatan dengan semesta

bukan..!!
bukan mereka...!!

tak seharusnya ku sandarkan kebencian pada mereka yang membimbingku mengenal keasrian semesta

lalu..??
sudikah kalian ku benci dengan segenap amarah dendam ku

sudikah kalian untuk itu??

jika berberat hati untuk ku benci, kemari lah
jabat dan rengkuhlah tangan kotor ku ini

mari kita jalin persahabatan dengan semesta
juga dengan siapa pun yang sudi bersahabat dengan mereka yang terdzalimi keangkuhan manusia bejat

aku, bersama mu semesta raya
sahabatku juga sahabat mu.





di penghujung malam, dalam ilusi berfikir tentang puncak pegunungan 15 Juni 2012



0 komentar:

Post a Comment