Belajar Menulis, dokumentasi pemikiran perjalanan hidup.

21 May 2013

Ketika Kematian Menyapa Gotong & Royong #2


Dibalik mimbar, kebijakan terus saja mengigau banyak hal. Janji-janji terus saja bergulir diatas tanah-tanah lapang yang rindu harapan. Jubah, dasi, sepatu, berjingkrak-jingkrak atas nama kemewahan. Semuanya, sorak sorai seolah telah memenangkan lotre dengan jutaan dollar. Sementara Gotong, masih tak beranjak dari ranjang berkelambu putih. Matanya nanar menahan air mata, ia selalu berusaha memperlihatkan ketegaran kepada siapapun. Ia tidak ingin terlihat rapuh, lemah, apalagi sampai terlihat kalau dia sebenarnya sedang sekarat.



“aku harus kuat” bisiknya yang entah ditujukan kepada siapa.

Diatas ranjangnya yang juga mulai terseok kelelahan, ia menahan segala yang dipunya dan menjadi daya tahan. Meskipun ia tahu dan sadar betul, bahwa kematian merupakan sebuah kewajiban. Tapi baginya, ia adalah kekekalan serta keabadian. Sebab ia adalah ruh dari segala kehidupan manusia. Jika ia mati, tentulah mati semua kehidupan manusia. Bahkan kepunahan, yang ada hanyalah iblis-iblis menyerupa manusia, ekosistem kerja sama, berbareng, semua hilang. Dan itulah era iblis dibalik jubah dan kemeja mewah. 

Sempoyongan, Gotong melangkah keluar. Kali ini ia ingin mencari saudaranya, Royong. Sekuat tenaga ia keluar, melangkah dan terus melangkah. Hingga pada suatu ketika, ia mendapati tempat yang bernama kebebasan. Di tempat itu ia berharap ada salah seorang yang mengenal saudaranya, atau setidaknya yang tahu makam saudaranya jika memang kematian sudah menghampiri. Namun tetap saja, tak seorangpun mengenal Royong. Bahkan dirinya pun seolah menjadi sosok yang aneh, jadul.

Kebebasan itu terlalu glamor bagi Gotong.

“bagaimana mungkin tak ada orang yang mengenalku dan Royong, bukankah aku primadona masyarakat” gemetar ia bergumam.

“kau mungkin primadona, tapi bukan di jaman ini” tiba-tiba ada suara menimpali.

“siapa itu?” Gotong mencari-cari sumber suara yang menggema melecehkan.
 
“mungkin aku satu-satunya orang yang mengenalmu disini” timpalnya lagi.

“tidak, semua orang tentu mengenalku, juga mengenal Royong” jawab Gotong tegas.

“jangan ngawur, kamu itu hanya masa lalu. Masa lalu yang dilupa, tak lebih”

Gotong tercengang, ketika ia mendapati suara itu justru suara seorang nenek. Dengan badan membungkuk, rambut putih, dan gigi penuh dengan kinang.

“kau kah itu nek” Tanya Gotong sambil mendekat.

“tentu saja, orang-orang yang mengenalmu tentu hanya orang yang sudah renta seperti ku. Kemarilah, biar sedikit ku ceritakan mengenai primadona yang lain”

“maksud nenek? Ada primadona lain di kehidupan ini selain aku dan Royong?”

“tentu saja”

“kamu lihat disana” ucap nenek itu sambil menunjuk kea rah gerombolan manusia.

“iya, aku melihatnya. Kenapa?”

“mereka itu sedang memuja primadona, dan itu bukan kamu atau saudaramu”

“lalu, siapa primadona yang mereka puja”

“kebebasan nak, yah kebebasan”

“siapa itu kebebasan nek?”

“yang menggantikanmu dan saudaramu tentunya”

“iya, tapi siapa?”

“Demokrasi”

Gotong tercengang, dirinya dan Royong ternyata bukan lagi disebut masyarakat sebagai primadona. Ia hanya kiasan masa lalu yang memantul memalui cermin roda kehidupan. Ia hanya sepenggal kisah yang barangkali memang sudah dilupa oleh sejarah. Meskipun dalam penglihatan Gotong, primadona yang disebut oleh nenek tadi terlihat begitu menakutkan.

Atau mungkin memang Gotong dan Royong yang sebenarnya juga ikut terserang virus pembangunan. Hingga masyarakat, yang dulu juga memujanya kini beralih tak mengenal. Sebab dirinya dan Royong, dilihat merupakan titisan masa silam yang sebenarnya jauh lebih menakutkan.

Gotong terdiam, membisu tak mengucap kata apapun. Matanya nanar menatap sesuatu yang sama sekali tak pernah terbayangkan olehnya. Tubuhnya tiba-tiba terasa lunglai, dunia berubah menjadi gelap dalam sekejap. Hiruk-pikuk suara yang lebih terdengar seperti ratapan lambat laun sirna. Keadaan berubah menjadi gelap, sunyi serta sepi. Tak ada siapapun, hanya ia sendiri.

Namun, dalam pendar-pendar cahaya menyilaukan. Gotong melihat tangan menjulur mengajaknya berdiri, bangkit kembali. Berjalan dengan ringan, ringan sekali. Sakitnya seolah lupa, sebab tak sedikitpun ia rasakan sakit sekarang.

"Sekarat sudah lewat" fikirnya.

"ikutlah denganku, disana banyak kalangan yang jauh lebih memahami kita" ucap sosok yang menantingnya dari kematian.

"Kau, saudaraku bukan" tanya Gotong sambil bergetar.

Sayang, tanyanya tak kunjung menuai jawab. Hanya sekelibat senyum mengembang dari mulut yang justru lebih pucat. Ia hanya terus berjalan dan berjalan.

"Royong, kita akan kemana?" Tanya Gotong untuk kesekian kalinya. Namun masih dalam kebisuan keduanya melangkah. Ringan, tanpa beban sedikitpun. Bahkan seolah mereka memiliki sayap yang indah.


 <<<---Tamat --->>>

2 comments: