Belajar Menulis, dokumentasi pemikiran perjalanan hidup.

17 October 2011

Ibu


ibu
maafkanlah si kurang ajar ini
telah membodohi engkau yang taat

rinduku menyala disini
di sudut hati yang kotor
namun langkah ku terhenti oleh malu
untuk menyapa mu tanpa harapan atas engkau

ibu
terimakasih
atas air mata mu yang menetes di atas sajadah
saat pagi segera menjelang
sebagai wujud dzikir mu mendo'akan

dahaga dan lapar mu
merupakan wujud do'a dalam bermunajat
memohonkan ampun untuk ku
terimakasih ibu
atas do'a mu yang terus bergumam
selayaknya aliran sungai

ibu
engkau lah si pemilik gelar mulia
atas surga dibalik telapakmu
engkau lah si pemilik ikhlas satu-satunya untuk pengorbanan
pada seorang anak yang kurang ajar

percaya lah ibu
rajutan rindu ku padamu itu nyata
namun masih belum mampu terurai
dalam harapan suci mu
maaf ibu

dalam gumam do'a mu
diantara tetes keringat pengorbananmu
usahaku akan terus aku goreskan
di ujung lautan dan puncak bukit
dengan tinta-tinta emas
seperti yang engkau dulu ajarkan

sebagai bekal kelak aku kembali
menyapa mu
dengan keberhasilan mengemban amanah harapmu

ibu
terimakasih
terimakasih selalu untukmu
do'a mu adalah sihir menjadikanku kuat
saat asa menyapa

atas kemuliaanmu dan surga yang kau emban
maka maafkanlah aku

ibu







september akhir, sebagai awalan dalam 60 hari menulis puisi 
dalam toples lembaran lama tetesan tinta

0 komentar:

Post a Comment