Belajar Menulis, dokumentasi pemikiran perjalanan hidup.

10 April 2013

Download: Mangir karya Pramoedya Ananta Toer


Pramoedya Ananta Toer, salah satu novelis tersohor dengan karya-karyanya yang kerap kali mengkritik tatanan sosial masyarakat pada masanya. Melalui karyanya yang satu ini, Beliau kembali memaparkan sebuah perseteruan antara kerajaan Mataram dengan Perdikan Mangir. Baik dari lini politik, tentang cerita tulusnya cinta, sampai pada takaran kesetiaan menjadi manusia.

Yang paling aku suka dari cerita Mangir adalah kisah cinta antara Ki Ageng Mangir Wanabaya dan Sekar Pembayun. Pada awalnya Sekar Pembayun membantu ayahnya untuk  menjebak Ki Ageng Mangir Wanabaya dengan cara mencuri hatinya. Ternyata bukan hanya hati Ki Ageng Mangir Wanabaya yang berhasil dicurinya tetapi hati Sekar Pembayun juga ikut tercuri oleh Ki Ageng Mangir Wanabaya.

Aku ikut merasakan bagaimana beratnya perasaan Sekar Pembayun yang begitu mencintai suaminya tetapi dia harus mengkhianatinya. Begitu juga perasaan Ki Ageng Mangir Wanabaya ketika mengetahui dusta sang istri. Dia tau istrinya menipu dirinya dan dia juga sadar kalau istrinya mencintai dirinya 100%.

Tidak bisa dibayangkan bagaimana Ki Ageng Mangir Wanabaya menerima kenyataan tersebut dan mempertanggung jawabkan kepada teman-temannya yang telah mempercayai nasib desa mereka kepada dirinya.

Novel ini bercerita tentang keruntuhan majapahit (1527), pada saat itu Jawa menjadi daerah yang tidak bertuan dan tidak mengenal satu kekuasaan tunggal. Pada saat yang bersamaan pula, Wali Songo (Sembilan Wali) mulai menyebarkan Islam melalui pesisir utara, sementara Portugis telah datang ke sunda kelapa.

Kekuasaan tak berpusat tersebar praktis di seluruh Jawa, menyebabkan keadaan kacau balau. Perang yang terus menerus untuk merebut kekuasaan tunggal membuat Pulau Jawa bermandikan darah. Sehingga yang muncul di Jawa adalah daerah-daerah kecil (desa) yang berbentuk Perdikan (desa yang tidak mempunyai kewajiban membayar pajak kepada pemerintah penguasa) dan menjalankan sistem demokrasi desa, dengan penguasanya yang bergelar Ki Ageng. Adalah Ki Ageng Pamanahan menguasai Mataram dan mendirikan Kota Gede pada 1577. Kemudian Panembahan Senapati, anak Ki Ageng Pamanahan naik menjadi Raja Mataram.


Saat bersamaan muncul pula sebuah daerah Perdikan Mangir dengan pemimpinnya yang bernama Ki Ageng Mangir Wanabaya. Seperti layaknya daerah-daerah lain di Jawa, pertempuran perebutan kekuasaan pun tidak terelakkan, demikian pula antara Mangir dan Mataram. Hal ini sangat dimungkinkan karena letak Perdikan Mangir dan Mataram yang sangat berdekatan, sekitar ± 30 km. Maka persaingan antara dua kekuasaan tersebut menjadi tidak terelakkan lagi, terlebih dengan usaha penggenapan janji Ki Ageng Pamanahan kepada Joko Tingkir (Sultan Hadi Wijaya) untuk menguasai sepenuhnya Mataram.

Pada akhirnya Mangir kalah setelah Ki Ageng Mangir mati di tangan Panembahan Senapati sewaktu menghadap bersama Sekar Pembayun dalam sebuah perkawinan rekayasa yang dibuat oleh Mataram dalam rangka menghancurkan kekuasaan Mangir dan daerah-daerah lain yang turut membantu Mangir, dan pada 1581 Ki Ageng Pamanahan berhasil menguasai Mataram (dan sekitarnya).

Silahkan Download novel ini, sebuah kisah yang sangat inspiratif. Bukan hanya tutur bahasanya, tapi juga makna yang terkandung didalam cerita ini mampu memberikan kita pengetahuan tentang kebenaran sejarah.

Mangir Karya Pramoedya Ananta Toer


Baca juga mengenai sepak terjang Pramoedya Ananta Toer semasa hidupnya, tentang perjalanannya dari penjara ke penjara, kegigihannya dalam menulis hingga akhir hayatnya. Klik disini.


0 komentar:

Post a Comment