Belajar Menulis, dokumentasi pemikiran perjalanan hidup.

19 April 2013

Manfaat Manajemen Dalam Aktifitas Dakwah




Kenapa Manajemen menjadi penting dalam aktifitas kegiatan dakwah?

Kemajuan zaman, juga maraknya aksi-aksi dari oknum yang kadang menyatakan dakwah namun justru berimbas pada merosotnya nilai keislaman itu sendiri. Hal tersebut tentu bukan hal baik bagi nilai-nilai islam yang pada dasarnya berarti "selamat". Selain itu, aplikasi manajemen dalam aktifitas dakwah juga diharapkan dapat mampu menjadi faktor pendukung dalam optimalisasi dakwah itu sendiri. Baik secara menyeluruh menganai keilmuan agama, atau secara spesifik kajian-kajian tertentu.

Sebelum membicarakan hal tersebut lebih banyak lagi, nampaknya perlu kita coba menilik kembali makna manajemen. Baik secara umum maupun secara definisinya. Hal ini bertujuan agar lebih mudah dalam mencoba mensinkronkan antara dua hal tersebut.

Manajemen merupakan salah satu ilmu pengetahuan diantara ilmu-ilmu sosial yang lain, ditinjau dari pisisi dan eksistensinya manajemen memiliki nilai utama disegenab  aktivitas manusia, dalam hal ini aktivitas dakwah sebagai proses kerja sama yang di dalamnya menyangtkut segi-segi kegiatan yang sangat luas, meliputi smua lapangan kehidupan, mulai dari pendidikan, sosial, budaya, ekonomi. Dan lain-lain
Dalam Surat Ali Imran Ayat 104
Artinya :

“Dan hendaklah kalian semua menyeru kepada kebajikan, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dri apda yang mungkar, merekalah orag yang beruntung”.

Bila dikaitkan dengan sisi tanggung jawab yang sandaranya Surat Ali Imran Ayat 104, maka kegiatan dakwah tidak hanya berada dalam taraf pembebasan manusia dari hal-hal yang mungkar, tetapi lebih dari itu, dakwah merupakan aktivitas dalam mewujudkan perubahan dari semua segi kehidupan, mulai dari yang bersifat umum maupun yang bersifat khusus. Yaitu keterkaitan Manusia dengan Allah (hablumminallah), dan keterkaitan antara sesama Manusia (hablumminannas) serta keterkaitan Manisia dengan Alam.

Untuk mewujudkan ketiga keterkaitan tersebut, risalah Islam sebagai mediator dan dakwah sebagai pasilitator senantiasa memberi tekanan kepada umat Islam, supaya  mereka tetap memikul tanggung jawab untuk selalu bekerja keras serta memperjuangkannya. Tugas dan kewajiban untuk mewujudkan kerah itu diperlukan Jihad.

Ektensi Islam sebagai gama dakwah harus benar-benar  diwujudkan disgenab kegiatan manusia,  baik yang sifatnya transedental maupun sosial kemasyarakatan. Sebab  tanbggung jawab manusia dalam kehidupan dunia sifatnya Universal,

Menurut Yusuf Al-Qardawy, bahwa Islam taampil kemuka bumi  bertujuan untuk mengatasi semua problematika hidup yang biasa dijalani manusia, dan Islam tidak perna memandang manusia  itu sebagai makhluk Individu yang terisolasi dari khalayak ramai, tetapi manusia dipandang sebagai makhluk yang mempunyai rasa sosial bermasyarakat.

Dalam tanggapan lain, bidang pendidikan merupakan sala satu metode yang sangat penting dalam kegiatan dakwah, sebab dakwah dalam posisi yang luas berarti juga ishlah,  yaitu pembangunan dan perbaikan terhadap kehidupan manusia, agar tercipta manusioa yang berkemampuan baik psikis maupun fisiknya guna melaksanakan tugas-tugas  pembangunan.

Begitu juga di bidang ekonomi, eksistensi dakwah selalu dituntut mencari jalan keluar terhadap segala bentuk kesulitan masyarakat, menghapuska riba dan koropsi serta melenyapkan segala macam penyelewengan dan menipulasi sehingga terwujudnya sisitem ekonomi yang benar-benar sesuai dengan ajaran agama Islam. Dapat disebutkan, bahwah ekonomi Islam merupakan ekonomi Illahiyah, karena bermuara dari Allah.
Dalam Al-Qur’an Surat Al-Mulk Ayat 15 ditegaskan sebagai berikut :
Artinya:
“Dialah (Allah) yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah disegalah penjurunya dan makanlah sebagian dari rezkinya. Dan hanya kepadanyalah kamu (Kembali Setelah) dibangkitkan”

Inti dari firman Allah terebut, penegasan terhadap umat mausia untuk tekun mencari karunia yang disediakan oleh Allah di bumi, tujuannya mewujudkan kemakmuran dan kesejahtraan atara sesama.

Islam telah menunjukkan jalan terang bagi kehidupan manusia diantaranya, mencari rezki dalam wujud apapun asalkan halal, Islam menggalakkan umatnya agar selalu senatiasa bersikap peduli antara sesama, dan tidak mengumpulkan harta kekayaan untuk pribadi. Hal ini yang menjadi cita-cita dalam sistem ekonomi Islam sebagai sebuah sistem yang adil dan sesama serta menjamin kekayaan tidak hanya terkumpul pada sorang individu dan satu kelompok saja.

Untuk dasar itu, keberadan dakwah untuk mewujudkan sistem ekonomi bedasarkan Islam harus mampu  dilaksanakan, karena pada hakekatnya ciri-ciri penting ekonomi Islam telah ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Hasyr Ayat 7 sebagai berikut :
Artinya:
“Supaya harta itu jangan hanya beredar diantara orang-orang kaya saja diantara kamu..”

Di bidang kebudayaan,  dakwah dituntut dapat memperkuat dan menciptakan nilai-nilai Islam yang murni dan konsekwen, tujuan akhir agar Islam benar-benar mewarnai segala sumber inspirasi. Menyangkut budaya dan seni serta keterkaitan dengan dakwah, maka peran Islam sebagai agama dakwah harus selalu berada ditengah-tegah masyarakat. sebab, secara vaktual masih banyak hasil dan ide-ide yang disuguhkan manusia dalam menghasilkan sesuatu bertentangan dengan tuntutan agama Islam.

Mencermati uraian diatas, tidak berlebihan bila dimunculkan asumsi,  bahwah eksistensi manajemen begitu diperlukan dalam melaksanakan dakwah. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Abd. Rosyad Shaleh, pelaksanaan dakwah yang kegiatanya begitu kompleks, hanya akan berjalan efektif bila mana dilakukan oleh tenaga-tenaga yang memiliki kualitas.

Pentingnya manajemen dalam kegiatan dakwah :
  • Terwujudnya peruntutan dan perumusan sasaran serta tujuan dakwah dimasa yang akan datang atau berkelanjutan
  • Terwujudnya penentuan metode dan tindakan-tindakan yang seyokyanya dilakukan dalam kegiatan dakwah
  • Memudahkan pendelegasian wewenang dan tenaga pelaksanaan sesuai dengan profesi atau keahlian yang dimiliki secara setruktur pembagian kerja yang telah ditentukan.
 

0 komentar:

Post a Comment