30 August 2015
12 July 2015
[Download] Cinta Di Dalam Gelas Karya Andrea Hirata
30 April 2015
Kenapa Harus Ngeblog?
25 April 2015
Galau Karena Gak Bisa Nonton Liga Inggris? Ini Solusinya
19 April 2015
Download Buku MADILOG karya Tan Malaka Full (pdf)
14 April 2015
Candi Ijo Yogyakarta: Cukup Bayar Parkir dan Isi Buku Tamu
10 April 2015
Mulailah Menghasilkan Rupiah Dari Blogmu Dengan Bergabung DI Access Trade
Kebanyakan dari kita ketika memulai sesuatu mungkin berawal dari hobi atau rasa penasaran untuk mencoba. Dan terpujilah, ketika sesuatu yang kita lakukan atas dasar hobi juga bisa memiliki nilai rupiah yang menguntungkan. Seperti halnya dalam dunia blog, kebanyakan orang memulai ngeblog atas dasar hobi. Seperti yang saya lakukan ini, awalnya hanya kesemsem seneng, lalu tertarik untuk mendalaminya, karena memang akfitas ngeblog saya anggap menyenangkan.
Nah awalnya dunia blog mungkin tidak lain seperti buku diary, bedanya disini tidak ada rahasia. Apa yang kita tulis bisa diakses dan dibaca secara penuh oleh pengunjung blog. Artinya tetap ada sedikit perbedaan dengan buku diary yang biasanya ada orang menyentuh saja sudah uring-uringan, sementara blog kebalikannya. Terlebih jika menginginkan income/ pendapatan dari blog, sebab hal utama yang dibutuhkan selain kontent yaitu pengunjung. Kebayang kan betapa uring-uringannya kalau tidak ada pengunjung yang mampir. hehee
Lalu, bagaimana agar blog yang kita kelola memiliki nilai income terhadap keuangan kita?
Seperti sudah saya paparkan diatas, bahwa dalam dunia blog ada istilah publisher, Dimana sang empu blog bersedeia memasang iklan pihak penyedia untuk melakukan optimalisasi pengenalan terahadap produk.
Di indonesia sendiri cukup banyak perusahaan-perusahaan yang menerapkan sitem tersebut, tentu saja dengan beragam ketentuan dan syarat. Salah satunya yaitu Access Trade. Acces Trade sendiri pada mulanya berdiri di Jepang pada tahun 1999 dan hingga saat ini telah menjadi yang terbesar di negara tersebut.
Affiliasi ini menggunakan CPA (cost Per Actions) artinya komisi akan dihitung berdasarkan transaksi yang terjadi. Sistem ini tergolong lebih aman, sebab baik publisher maupun advertiser lebih diuntungkan dan sama-sama tidak rawan manipulasi. Sementara bagi publisher, sistem kerja seperti ini menawarkan lebih besar komisi dari pada hitungan tiap klik yang cenderung harus mendatangkan pengunjung lebih banyak.
Keunggulan lain dari Access Trade yaitu cara pendaftaran yang cukup mudah, anda cukup melakukan registrasi di kolom publisher (jika anda ingin menjadi pengiklan) dan kolom advertiser (jika anda ingin memacang iklan). Setelah itu tinggal tunggu email balasan sebagai dasar pendaftaran anda diterima, jangan khawatir tidak lama kok. Paling cuma 1-2 hari juga sudah mendapat email balasan.
Jadi tunggu apa lagi, mumpung ada kesempatan untuk memperoleh pendapatan tambahan di blog kalian, segera daftarkan di Access Trade. Dan tentu saja jangan lupa Update Terus Blog Milikmu. Raih ratusan bahkan jutaan rupiah dari hobimu dalam mengelola blog. Pasti menyenangkan bukan?
Nah, jika masih sedikit bingung silahkan daftar menjadi Publisher di Access Trade silahkan klik gambar dibawah ini,
31 March 2015
Cara Aman Belanja di Internet
- Kenali peruhaan/ penjual dengan cermat
- Pastikan harga produk sesuai standar
- Cari refrensi
- Cek model transaksi
- Periksa kredibilitas perusahaan
- Pastikan alamat anda benar
29 March 2015
Terimakasihku
Selamat pagi, selamat menikmati minggu terakhir di bulan Maret ini. Jangan keluhkan hal-hal buruk, soal yang telah lalu biarkan saja ia menjadi sebutir kenangan yang telah tertinggal. Sebagai pribadi yang bijak, ambillah sebuah pelajaran dari sana untuk kebahagiaan di pagi ini. Bukankah begitu ungkap para motivator, ambil pelajaran, teguk hikmahnya, selalu.
Terimakasih buatmu, yang tak henti dan lelah secara bertubi-tubi memberi kritik yang menampar pedas atas pribadi yang kerap kali mbalelo ini. Terimakasih atas kegigihanmu untuk itu, meskipun mbalelo merupakan sikap yang kerap terulang dan terulang secara beruntun. Namun tamparan kritik itu juga ikut berulang dan terus berulang.
Seperti hal lain, aku kerap mengagumi senja saat sore seperti kebanyakan orang. Menjadikan senja sebagai objek kebanggaan untuk diabadikan dalam potret, lalu memamerkan kepada seluruh khalayak diberbagai media sosial. Namun bagimu, ah kamu selalu memiliki kejutan-kejutan tak terduga. Katamu, senja itu menakutkan, ia membawa misi diam-diam yang sebagian kita tak mengetahuinya. Yah, kamu bilang senja hanya akan menjadi gerbang pembuka malam dan keberakhiran. Aku benci malam, katamu.
Adanya senja hanya akan membuat pasangan kita menemukan alibi untuk menyudahi kebersamaan, setelah itu kembali perpisahan. Senja juga menjadi sebuah titik penantian para buruh yang jenuh dalam pekerjaan, sebuah tanda keberakhiran segala aktifitas yang syahdu itu. Lalu malam datang, tak lama kemudian dunia ini hening, tiada lagi gemuruh percakapan orang-orang, tiada lagi lalu-lalang kehidupan yang aduhai. Orang akan menjadi buru-buru, menafikan segala yang dijumpai dijalanan, walaupun hanya menyapa basa-basi.
Berbeda dengan fajar, katamu ia begitu tulus saat pagi hadir sebagai pembuka hari penuh harapan. Orang-orang akan bangun dan mandi, lalu memulai aktifitas apa saja demi sebuah impian. Ia akan menawarkan banyak tawa, kalaupun ada air mata seolah-olah hanya sebagai awal untuk tawa yang kekal. Terimakasih untuk semua pelajaran, semua hal yang telah menjadikanku gairah dan sumringah. Tentu saja, terimakasih telah memberi pandangan yang berbeda soal senja dan fajar. Keduanya memang sam-sama memiliki unsur keindahan. Namun kedua juga memiliki arti yang berbeda, memiliki maknanya masing-masing.
Seperti halnya senja dan fajar, pun kamu memiliki unsur keindahan tersendiri. Keindahan yang bahkan tidak dipunyai oleh senja dan fajar. Ah, kalau-kalau tulisan ini merambah pada pengaguman yang buta, mama maafkanlah. Semua hanya rasa terimakasih atas banyak hal yang dapat ku serap. Pelajaran, hidup, cinta, persahabatan, semuanya. Semua tentangmu, violet.
13 March 2015
Untukmu, Cyberangjalan
Hai selamat siang menuju sore, rasanya lama sekali tidak menulis disini. Alih-alih kesibukan yang klasik, padahal ngetuit lancar tuh. BBM juga tiap menit ganti, belum pamer foto, nge-line, wechat, ah maafkanlah. Manusia memang kerap begitu, kadang semangat luar biasa dan kadang juga ogah-ogahan, tapi apa daya sebagai manusia aku harus menyebut yang demikian itu sikap manusiawi. Bukan kah begitu? Aku anggap kau sepakat, begitu biasa orang jawa bilang, diam tanda sepakat.
Jadi bagaimana kabarmu? Masihkah kau mengimani arti sebuah kesetiaan?
Oh tentu, sosok yang mendedikasikan dirinya sebagai bayangan pastilah setia. Aku sama sekali tak meragukannya, kau tau itu. Namun pertanyaanku bukan soal itu, aku mempertanyakan hal paling sederhana dalam dunia tanya-menanya, kabar. Bukankah tak sulit untuk menjawab "baik" atau "buruk", atau pilih kalimat yang sedikit kompromis "seperti yang kau lihat" misalnya. Tapi ya sudahlah, tak etis juga rasanya jika aku memaksamu menjawab pertanyaan sederhana itu. Toh antara aku dan kau hanya berusaha menggunakan hak kita, basa-basi. Biar angin malam yang mengabarkan pada khalayak, kalau siang ini kita bertemu, bahkan bercumbu. Biarkan kopi turut cemburu atas percumbuan kita ini, bukankah hanya dengan menulis begini aku bisa menyapamu? Ah, cyberangjalan.
Maka sudahi saja perdebatan, toh aku hanya ingin menyapa, sekedar ingin tau kabarmu. Kalau mau berdebat lain kali saja, setidaknya biar aku menyiapkan catatan kecil. Kau taulah, aku tak seintelek kau. Lagi-lagi kau juga tau itu, bukankah berdebatan kita yang sudah-sudah lebih banyak aku yang mencuri ilmumu? Ah, untuk yang satu ini jelas kau tak tau. Karena hukum pencurian itu diam-diam, kecuali koruptor dan begal.
Oh ya, bagaimana kopimu? Sajakmu yang dulu tak ku mengerti itu sudah selesai? Kalau sudah kabari aku, aku ingin membacanya saat senja nanti. Mungkin disebuah pantai, jumat begini biasanya ada tradisi nelayan meruwat perahu. Pasti syahdu. Apa kau akan ikut? Saranku lebih baik jangan, karena saat aku diposisi itu sudah pasti segalanya akan aku cuekin, sebab saat seperti merupakan moment untuk melupa. Tuhan Maha Hebat dalam mencipta dan menyuguhkan keindahan alam. Selalu.
24 February 2015
10 February 2015
Karena Aku Kopi
Aku biasa berada disudut meja, sering disebut-sebut menginspirasi, sebagian lagi menyebutku seorang teman, teman menghabiskan sore dalam menyambut senja.
Aku biasa berada disudut meja, bersaksi dari beragam banyak cerita hidup yang nampaknya masih terus berlanjut. Menjadi pendengar setia dari banyak kegundahan anak adam, pun kebahagiaan mereka aku juga menjadi saksi. Ditempat yang sama, sebab aku biasa berada disudut meja, ditunggu lalu usai dan selesai, selebihnya hanya dilupa.
Dimeja yang sama, juga dalam cangkir yang itu-itu saja, secara bergantian aku mengamati, mendengar, lalu kembali dilupa. Ah, ada saat dimana rasa hangat menjadi begitu didamba, barangkali saat itulah aku terlihat menggoda, walaupun aku biasa dan sangat lumrah kalau-kalau hanya dijadikan pelengkap dan pendengar.
Aku biasa berada disudut meja, mendengar bagaimana sepasang kekasih saling tuduh menyalahkan. Mengetahui, bagaimana permainan kongkalikong antar sesama, pun sumpah serapah mengutuki hidup. Akulah, yang begitu banyak menyaksikan kompromi antar golongan. Dan akulah, saksi sekaligus perekam paling lengkap kalau-kalau kelak waktu memuatarnya sebagai dasar pengetahuan masa depan.
Aku biasa berada disudut meja, sebagai pelengkap permainan domino ataupun poker, lalu dilupa dan ditinggal tertawa-tawa. Begitu, secara terus-menerus tanpa ada batas pelarangan, konon banyak hal yang dulu tabu kini berubah menjadi wajar-wajar saja. Alasan klasik: "ini jaman modern" begiti kalimat yang hampir selalu muncul dan menggema.
Aku biasa berada disudut meja, bertegur sapa dengan bibir dusta, sesekali kombinasi kretek menjadi perpaduan yang disebut-sebut cocok dan jodoh. Dimeja yang sama dan cangkir yang juga itu-itu saja, aku berdiam dalam suhu yang hangat, sangat hangat. Bagimu, mungkin biasa menyebutku panas. Aku yang selalu ditunggu untuk dikandaskan, lalu seperti biasa, dilupa.
Aku biasa berada disudut meja, bersaksi rencana kejahatan, belajar banyak pengetahuan, juga mendengar tak sedikit hal baik. Entahlah, aku bahkan bersaksi atas kemesraan pasangan muda-mudi, tangan yang curi-curi lalu mengusap, serta telikung mata yang beradu pandang dari kekasih satu ke kekasih lain. Karena aku kopi, ada dan merekam banyak hal yang manusia perbuat.
03 February 2015
Rindu Pulang Pada Masa Kecil
Aku rindu bermain kelereng, rindu merasakan kebanggaan atas keberhasilan membondong puluhan butir kelereng dalam saku kolor di kanan-kiri. Betapa saat itu, perasaan bangga yang bisa jadi tak kan rela untuk dibayar berapapun. Karena itulah kemenangan, membondong puluhan butir kelereng dari teman. Karena apa? Karena untuk mendapatka kemenangan itu tidaklah mudah, meskipun hanya permainan kelereng. Namun hal itu perlu adanya strategi, ketelitian, semangat, hingga penempatan sasaran juga harus berbanding lurus dengan titik tolak yang kita incar. Karena jika salah satu dari syarat itu tidak terpenuhi, jelas kesempatan untuk menang lebih kecil.
Dan terlepas dari syarat diatas, keahlian serta kelihaian bermain cantik merupakan syarat mutlak. Sebab tanpa itu, pasti akan hukuman yang menanti. Disinila uniknya, hukuman bukan berupa denda atau diskualifikasi, namun moral. Yah hukuman secara moral yang jauh sangat menyakitkan, kau takan pernah diajak bermain, sebab permainanmu tidak cantik (curang).
Aih, betapa saat itu begitu ku rindukan. Saat dimana merasa bangga ketika berhasil membondong puluhan butir kelereng, juga saat dimana urung menyerah ketika kalah. Karena esok harinya, permainan pasti berlanjut dan berlanjut lagi. Tak pernah ada dendam, permainan bubar biasanya karena masing-masing simbok kita sudah datang membawa pelepah pisang, mengacung-mengacungkan agar segera berangkat ke langgar. Maka permainan bubar, semua dari kita akan berlarian, barangkali mirip PKL yang tunggang-langgang akibat ada satpol pp. Namun dasar semangat, di sela-sela menanti ustadz datang permainan kelereng akan kembali berlanjut. Pun saat menunggu giliran untuk setoran hafalan turutan (juz 'ama) permainan juga kembali berlangsung.
Betapa semangat seperti itu aku merindukannya, entah dalam diri pribadi maupun dalam diri generasi. Semangat yang akan selalu bangkit dan melawan lagi, meskipun habis kalah. Semangat yang rela dan berani menganbil resiko dalan kondisi apapun demi terciptanya permainan. Ah, apakabar kawanku yang dulu suka mencuri waktu ngaji hanya demi bermain kelereng. Semoga kalian semua tetap bisa menjaga semangat dan kegigihan demi sebuah asa dan cita. Selamat pagi dan selamat bermain kawan.
Bukankah dunia ini serupa panggung sandiwara kawan, seperti dendang sebuah lagu bahwa semua hanya permainan. Maka dari itu kawan, sebagaimana syarat bermain kelereng, untuk menjalani kehidupan dan mengejar cita kita juga membutuhkan syarat itu untuk bermain. Keahlian, strategi, ketelitian serta semangat pantang menyerah tentu menjadi komponen yang tak kalah penting. Dan betapa saat-saat bocah dianggap masih bau kencur justru memiliki warna dan corak keindahan yang aduhai. Dan tahu kau kawan, itulah kenapa rindu menjadi sesuatu yang mahal dan istimewa, terlebih kerinduan pada masa kecil kita sendiri.
26 December 2014
Cinta Kasat Mata: Perjuangan Seorang Romeo Demi Nyai
perkenalan tidak ada gelagat aneh sama sekali, semuanya terlihat
normal-normal saja. Barangkali lebih baik aku menamainya menggunakan
inisial saja, anggaplah namanya R. A. P. Perawakan tambun, selera
musiknya aih metal gaes. Bahkan kadang aku tak mengira kalau ia sedang
bernyanyi. Terang saja, bagiku seperti orang teriak-teriak tak tentu.
Namun jujur, setelah tahu liriknya betapa itu lagu dengan penuh gairah
melawan, membongkar, hingga mengkritisi. Satu lagi yang dalam
pandangan kami dan kerap kami gunakan untuk membully yaitu tingkat
kejombloannya yang barangkali akut.
Ah, apalagi yang dilakukan pemuda saat sudah berkumpul dalam lingkaran
kopinya selain saling membully satu sama lain. Aktifitas itu sudah
seperti ritual keakraban yang menyatu dengan malam. Dan di era ini,
tema Jomblo sukses menjadi primadona dalam hal pem-bully-an. Aktifitas
saling bully seolah tak pernah lepas ketika diantara kami sudah
berkumpul. Anehnya, masing-masing diantara kami sudah tahu kalau akan
di bully ketika diajak kongkow, namun tetap saja datang.
Baiklah kembali ke konteks "Cinta Kasat Mata: Perjuangan Seorang Romeo
Demi Nyai". Pada suatu masa R. A. P mengungkap soal cinta hampir di
semua media sosialnya, mulai facebook, twitter, path, BBM dan lain
sebagainya (betapa banyak model medsos). Terang saja hal itu mengusik
akal sehat kami semua, sebab predikat jomblo akutnya yang ia sandang
bertahun-tahun. Terlebih ungkapnya tentang cinta tidak hanya satu dua
kali, melainkan secara terus-menerus, setelah cinta lalu rindu, lalu
yang paling membuat kami tercengang yaitu ketia R. A. P mengungkap
nyai (masih dalam medsosnya). Seolah ia ingin mengabarkan pada kami
dan seluruh pengguna medsos, bahwa ia bisa merasakan jatuh cinta,
bahwa Jomblo bukan berarti tak berperasa akan indahnya cinta seorang
nyai. Ia bisa, ia mampu, hanya saja barangkali cintanya kasat mata.
Kalau dalam sebuah lagu biasa disebut mencintai dalam diam. Nah lho!!!
Jujur saja, sebenarnya aku curiga kawan satu ini mendabat bisikan
seperti halnya yang dikatakan oleh John Carter kepada keponakannya
untuk jatuh cinta. "jatuh cintalah" begitu ungkap John Carter sebelum
akhirnya ia melintasi waktu ke Mars hanya dengan mengucap "Bashroom".
Dan pesan Johan Carter menggema seantero bumi hingga terdengar oleh R.
A. P, sejak itu ia seolah berubah menjadi Khalil Gibran. Apapun yang
ia lihat, dapat dijadikan sebagai inspirasi untuk berpuisi. Dan nyai,
ah nyai macam apa yang sudah membuat kawan satu ini demikian mudah
mesam-mesem sendiri di pojok kamarnya. Ada yang bilang, soal cinta itu
antara logis dan tidak logis, sebab logika tidak selamanya berfungsi
untuk mendebat cinta. Alahemm....
Sayangnya, hingga tulisan ini ku muat kami semua belum bisa menelaah
makhluk seperti apa "Nyai" yang beberapakali masuk dalam deretan puisi
R. A. P. Namun dalam pandangan hemat kami, banyaknya puisi tentang
"Nyai" yang di buat oleh R. A. P tidak mampu mengubah status jomblo
akutnya. Puisi-puisi itu, rapalan nyai yang berulangkali, menurut kami
hanya mampu merubah tema pem-bully-an di meja kopi, tak lebih. Kabar
terakhir dari mata-mata yang melapor yaitu, saat ini R. A. P sedang
berjuang melawan lapar, sebuah upaya pembakaran lemak. Tidak lain,
semua dilakukan demi "nyai", demi cinta yang selama ini menggantung
diantara abjad-abjad puisinya.
Cinta Kasat Mata merupakan cinta tak nampak di permukaan kopi dan
cangkir. Sementara Sebuah Perjuangan Romeo Demi Nyai merupakan proses
penanggulangan rasa pakewuh dalam mengungkap dikemudian hari. Inilah
spekulasi sebuah rasa, argumentasi dari pengamat, dan jika kamu (R. A.
P) merasa perlu untuk melakukan klarifikasi atas ini semua. Maaf aku
hanya menerimanya jika kamu melakukannya lewat tulisan juga. Dan untuk
mendamaikan semua yang terlibat, mari terbahak bersama.
Ha...Ha...Ha....
30 November 2014
Pagi di Kepalaku, Catatan Dibalik Jendela
tendang-tendang ranjangku yang bobrok". Lagu tersebut berjudul "ingin
(beli) tidur" dari SLANK.
Pagi, aku membuka jenedela kamar, membiarkan sinar matahari menimpa
buku catatan usang di pojok meja. Biarlah, barangkali buku itu juga
butuh penghangat seperti halnya kita. Kalau-kalau ia sudah terlampau
kedinginan karena terlalu lama tak terjamah.
Aku masih berdiri, merapat ke dinding dekat jendela. Melihat
orang-orang lereng gunung mencangkul menyiapkan lahan, barangkali
untuk ditanami cabe. Ada juga yang hanya duduk-duduk sembari
mengobrol, aku menduga obrolan mereka seputar harga pupuk yang terus
melejit, sementara hasil panen hampir selalu murah. Juga biaya sekolah
anaknya yang tidak pernah turun tiap catur wulan, selalu naik dan
bertambah biaya ini itu. Dan alamak, ibu-ibu berbondong membawakan
makanan untuk para suaminya yang sedang menanam uang. Aih, indah
bukan?? Dan lihat romantis nyatanya bukan hanya soal membelikan
cokelat atau kembang mawar.
Aku menyandar pada kusen, barangkali terbuat dari kayu sengon.
Beberapa bagian sudah mulai lapuk dimakan usia, catnya terlihat mulai
kusam. Jelas usianya sudah puluhan tahun. Ah jendela, usiamu tua muda
sama saja. Melalui celahmu, sinar matahari dapat masuk menghangatkan
buku catatanku. Melalui celahmu juga, aku melihat kehidupan diluar
sana, tentang mereka, para petani lereng gunung. Dan yang paling
penting, aku tak perlu memutar jauh-jauh untuk sekedar membuang
puntung rokok. Terimakasih jendela.
Ah, pagi seperti itu, dengan kemampuan jendela menyuguhkan banyak
cerita. Betapa indah, betapa otak tidak dibuat membeku oleh
suguhan-suguhan hotel dan apartemen sepuluh atau lima puluh lantai.
Betapa pagi dikepalaku seperti sebuah kehidupan lain, kehidupan yang
hidup dalam kehidupan lain.
Bayang-bayang tak ubahnya seperti hantu yang melayang-layang diantara
kenyataan. Pun pagi itu, jendela itu. Semua yang terlihat hilang
sirna, tidak ada orang-orang yang mencangkul lahan untuk ditanami
cabe. Tidak ada sekumpulan bapak-bapak resah karena biaya pendidikan
anaknya yang terus melejit. Pun ibu-ibu yang dengan sangat anggun
membawakan makanan untuk para suaminya. Semua itu tidak ada, semua itu
hilang sirna. Keromantisan barangkali memang bunga mawar dan cokelat,
sebagaimana dalam kitab-kitab sinetron yang disuguhkan pada kita tiap
hari.
Jendela ini hanya menyuguhkan gedung-gedung tinggi penantang langit.
Aku bahkan tidak mendapati sinar matahari memasuki ruangan ini. Kusen
itu juga sama sekali tak terbuat dari kayu sengon. Dan buku catatan
itu? Kau tanyakan buku catatan itu kawan, haha itu hanya lelucon. Pagi
dikepalaku, jendela dianganku, semua hanya hantu yang melayang-layang
diatas kenyataan. Pagi dikepalaku menyebutnya jendela, kanyataan
dihadapanku menunjukan kalau itu tak ubahnya lobang kecil yang ku
gunakan untuk mengintip. Kalau-kalau ada petugas datang membawa
pentungan siap menggusur dan membawaku.
Pagi dikepalaku, hantu di hadapanku, keduanya membakar kembali luka
lama. Sepontan ruang pengap dipenuhi bau amis, air mata begitu saja
mengucur. Aku rindu kampung halaman, aku ingin pulang, mengecup
telapak kaki ayah dan ibuku. Memohon ampun atas kebohongan yang ku
susun bertahun-tahun, tentang pekerjaanku sebagai orang kantoran.
Tentang kebahagiaanku yang sebenarnya ku kemas dalam kepalaku sendiri.
Aku ingin pulang, aku rindu kampung halaman. Aku bosan berpura-pura
tak kenal dosa, aku muak bersandiwara di depan para lelaki pemburu
kepuasan. Aku ingin meninggalkan abang-abang pegawai kantor kelurahan,
aku ingin meninggalkan abang-abang supir taksi yang anaknya sudah dua.
Aku ingin meninggalkan segala urusan dengan bayang-bayang. Aku ingin
pulang kekampung halaman, menjemput pagi dikepalaku.
Jogjanesia, dua ribu ampat belas.
Catatan seorang pendosa.
26 November 2014
Ruang Sakral: Catatan Dalam Kamar Mandi
itu berlimpah? Atau semacam ruangan semedi guna menggagahi keresahan
hidup yang kemudian disimpan dalam brangkas ide? Atau bisa juga
disebut sebagai semacam ritual yang dilakukan sebelum menulis.
Kita semua tahu, banyak tingkah polah yang dilakukan oleh para penulis
hebat sebelum memulai menulis. Hebatnya lagi, ritual-ritual tersebut
berubah menjadi sesuatu yang seolah sakral/ disakralkan. Mulai dari
mengunjungi tempat-tempat tertentu sampai melakukan aktifitas
tertentu. Selayaknya para penulis hebat tersebut, aku kira kalian juga
mempunyai ritual yang menurut kalian sakral untuk dilakukan bukan?
Minimal kalian punya tempat favorit dimana kalian bisa "memperkosa"
pikiran kalian sendiri untuk merangkai abjad-abjad tanpa nama. Hingga
pada akhirnya lahirlah sebuah cerita dengan berbagai model dinamika
keceriaannya.
Dan adakah diantara kalian yang menjadikan WC/ kamar mandi sebagai
tempat paling sesitif dalam menggagas sebuah ide sebelum menulis??
Bagiku, disanalah tempat itu, ruang semedi paling berpengaruh untuk
suatu perenungan hidup yang kian glamor ini. Jangan tanya alasannya,
pun ketika kalian memilih warung kopi atau kamar pribadi hingga ruang
kelas, sama saja. Begitulah, kadang tidak semua hal memiliki alasan
yang dapat diutarakan melalui kata ataupun tulisan. Semua itu mengalir
begitu saja, barangkali seperti sihir rupanya. Tak terlihat oleh kasat
mata.
Seringkali ide serta gagasan tiba-tiba berlarian begitu saja. Disana,
ketika aku sedang jongkok dalam ketegangan menahan saakitnya perut.
Entah, barangkali kali karena disanalah (konon) iblis kerap kali
menghuni. Kalau-kalau mereka itulah yang merangsang pikiran kian liar,
serta gila dalam mengurai ide dan gagasan. Sekali lagi, itu hanya
barangkali. Sebab tidak semua alasan dapat dituangkan dalam kata-kata
serta tulisan. Atau bisa saja tidak semua hal baik itu harus kita
lakukan dengan alasan.
Karena itu, kalau-kalau suatu saat aku dapat berkunjung ke tempat
kalian, jangan heran ketika ada durasi lebih saat aku berada dalam WC/
kamar mandi. Bisa jadi saat itu aku sedang mengandangkan ide-ide yang
saling berlarian dikepala. Kalau tidak, pastilah ada sesuatu yang
konslet di perut, katakanlah mules.
Bagiku, imajinasi harus liar, sesekali nakal tak mengapa. Sebab masa
depan sering kali berawal dari hal-hal saat ini masih dianggap tabu
atau bahkan mustahil. Pernahkah kalian membayangkan, bagaimana nenek
moyang kita dulu berpikiran sedemikian liarnya, sampai-sampai muncul
ide gila kalau ada pesawat terbang yang bisa mengangkut ratusan
manusia ke negara lain hanya dalam hitungan jam. Aku pastikan, dia
yang memiliki ide pesawat terbang saat itu pasti dianggap gila alias
tidak waras. Bagaimana mungkin besi sebesar itu bisa terbang, ditambah
ratusan orang pula, mustahil. Begitu barangkali umpatan mereka yang
secara imajinasi dangkal.
Namun lihatlah sekarang, semua itu terjadi dan nyata. Pesawat yang
biasa digunakan oleh para pejabat negara untuk melakukan kunjungan
kerja itu, semua itu siapa menyangka siapa mengira kalau itu ada dari
imajinasi seseorang yang dulunya dianggap gila atau tidak waras.
Sekarang semuanya menjadi rasional bukan? Ada dan nyata dalam dinamika
kehidupan kita.
Dan pada akhirnya, aku harus mengatakan pada kalian semua. Bahwa aku
juga punya ruang semedi, ruang dimana biasanya ide saling berlarian
kesana-kemari, yah WC. Entahlah, alasan seolah menjadi tidak penting
saat itu. Yang jelas, otak benar-benar menjadi terangsang sedemikian
rupa, abjad-abjad bisu mendadak berteriak menjelaskan. Seperti pagi
ini, ruangan sempit itu kembali. Itulah, kenapa aku menamainya sebagai
ruang sakral dalam soal ide. Entah dengan kalian.
Akhir kata selamat pagi, semangat hari dan #HappyBlogging.
Jogjanesia, dua ribu ampat belas.
22 November 2014
Guyub Rukun Minyak dan Air
melanjutkan cerita yang belum usai. Apapun itu, pagi tetaplah menjadi
sebuah awal baru kehidupan. Seperti halnya menata kembali mimpi-mimpi,
atau merampungkan mimpi-mimpi itu. Semuanya merupakan serangkaian
cerita hidup dari kehidupan. Dan Tuhan tidak akan kehilangan cara
untuk menempa diri kita menjadi pribadi yang lebih kuat.
Karena sejatinya hidup merupakan ajang penempaan diri untuk menjadi
benar-benar dalam esensinya sebagai manusia. Percayalah, itu tidak
semudah playboy menaklukan wanita. Tahu kenapa? Karena hidup bukan
soal takluk, melainkan memahami dan mengerti. Kita mesti tahu menahu
apa saja bekal yang merti bawa, kita mesti mengerti bagaimana
memanusiakan orang lain dalam ranah sosial masyarakat. Bukankah
memberi tidak selalu berbanding dengan sebuah solusi? Maka dari
itulah, toh tidak semua orang disekitar kita itu sama persis dengan
kita, atau mau sefaham dengan kita. Penyeragaman memang ada, tapi
tidak jauh lebih banyak perbedaan yang bergulir ditengah-tengah
kehidupan sosial masyarakat. Percayalah!!!
Ingat, perbedaan antara minyak dengan air bukan?? Keduanya tidak akan
bisa menyatu meskipun bersama dalam satu wadah. Atau istilah orang
jawa "ngumpul ning ora campur" artinya "kumpul tapi tidak campur".
Jadi perbedaan itu mutlak adanya, namun bukan untuk saling
mempengaruhi menjadi sama. Kira-kira seperti minyak dan air dalam satu
wadah itulah seharusnya kita. Meskipun keduanya memiliki sifat yang
sangat berbeda, namun bukan tak mungkin keduanya bisa bersama dalam
satu wadah bukan? Dan untuk bersama tidak harus sama.
Dalam negara kita misalnya, para pendiri bangsa ini sejak dulu selalu
menyuarakan "persatuan dan kesatuan". Dari dua kata ajaib itulah, kita
seharusnya mamapu menjaga "kebhinekaan" bangsa ini dalam
bermasyarakat. Pilpres ya pilpres, pasca itu presiden kita tetap satu,
ataupun pemilihan-pemilihan lainnya. Maka dalam sumpah jabatan para
elit, pasti ada kalimat penegas untuk mendahulukan kepentingan umum
dari pada kepentingan pribadi. Karena mereka (pejabat negara) tidak
lebih dari pelayan rakyatnya.
Ini, bangsa kita, ini tanah air kita, semuanya adalah kita dalam
naungan Merah Putih. Apapun Agamanya, sukunya, tradisinya, adatnya,
kita tetap satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa persatuan yaitu
Indonesia. Agamamu agamamu, agamaku agamaku, namun indonesia bangsa
kita.
Dan pagi ini, sabtu ini aku bukan sedang menjadi orator ulung.
Melainkan sedang berusaha mengurai keresahan hati dan pikiranku
sendiri. Bagaimana tidak, hingga kini bahkan sisa-sisa selisih paham
saat pilpres masih berdampak bahkan tataran masyarakat bawah. Yang
seharusnya menjalani kehidupan dengan "guyub rukun" justru menjadi
selisih tak kunjung rampung. Belum lagi soal penyalah gunaan kekuasaan
golongan mayoritas yang menerkam golongan minoritas. Ah, bukankah kamu
sepakat kita satu nusa? Bukankah kamu juga setuju kita satu bangsa?
Bukankah kamu tak keberatan kita satu bahasa? Indonesia Raya, ibu
pertiwi didiklah anak-anakmu ini menjadi pribadi yang asli.
Salam indonesia raya.
Aku, kamu, dia dan mereka adalah Indonesia jaya.
#SelamatNgopi
18 November 2014
Isi Kepala: Antara Judul Buku dan Merk Produk
beragam produk. Jangan tanyakan produk apa, karena kepalaku bahkan
hampir tak dapat menyebutkan satu per satu produk itu. Bukan apa-apa,
kepala yang hanya sebesar bola ini barangkali terlalu kecil untuk
menghafal dan menyimpan nama-nama produk itu. Belum lagi persoalan
hidup, bukankah kamu sepakat kita juga musti menyusun keluhan-keluhan
agar terlihat seperti orang intelek saat kita twitkan atau sekedar
buat status BBM.
Nah, aku bahkan tidak mampu menerka-nerka berapa banyak daftar buku
yang sudah dipatenkan dikepala. Jika judul saja aku tidak
mengingatnya, maka jangan sekali-sekali kamu tanyakan isi dari sebuah
buku. Karena seperti di awal ku katakan, kepala ini terlampau penuh
oleh beraneka produk yang di jajakan di berbagai model pasar bebas.
Terlebih begitu banyaknya marketing yang aduhai kreatif betul dalam
mengemas review suatu produk. Tidak tanggung-tanggung, berbagai jargon
didaur ulang menjadi sebuah kepastian bahwa kita memang harus memiliki
suatu produk tersebut.
Tentu saja aku tidak menyalahkan pihak marketing/ sales suatu produk
yang kreatif itu. Bukankah mereka juga berangkat dari asas kebutuhan
untuk menjalani hidup?? Dan dengan begitulah mereka (sales) terbebas
dari kutukan paling mengerikan dalam kehidupan bermasyarakat, yaitu
"pengangguran". Disisi lain tentu saja mereka itu lebih beruntung dari
sebagian makhluk korban PeHaKa atau penggusuran.
Kembali pada pembahasan awal, kepalaku yang begitu penuh oleh berbagai
macam produk. Entahlah, semoga itu tidak terjadi dikepalamu. Nah,
apakah dengan ini kemudian kamu akan menilaiku sebagai seorang yang
radikal? Biarlah, tak mengapa pandangan itu jika nantinya akan aku
sandang. Selagi tidak terkena kutukan yang mengerikan sebagai
pengangguran saja. Atau sebaliknya, aku justru akan dituduh sebagai
makhluk yang terlalu konvensional? Terserah kamu saja, pembaca.
Pertanyaan yang musti kita jawab bersama ditengah-tengah peradaban
produk saat ini yaitu: "berapa perbandingan daya simpan memori kepala
kita terhadap jumlah produk tiap harinya dengan jumlah buku yang kita
baca". Jangan dulu menghakimi aku sebagai orang sok tahu, disitu aku
menggunakan kata 'kita' yang artinya bukan hanya ditunjukan kepadamu,
melainkan juga ditunjukan kepadaku. Yah, ini adalah tantangan besar
kita di era digital dengan seabrek produk hiburan dan lain sebagainya.
Bagaimana kita menjadi makhluk yang tahan badai dan bisa memilah
penempatan nama produk dan pengetahuan dikepala kita.
Karena pengetahuan itu terlalu luas cakupannya, maka aku
spesifikasikan menjadi buku. So, mari itung-itungan setiap harinya.
Mana yang lebih banyak masuk dan kemudian tersimpan rapih dikepala
kita. Apakah nama-nama produk yang update atau daftar nama buku yang
siap untuk dilahap dan dihabiskan membacanya. Selamat bertugas.
Jogjanesia, dua ribu ampat belas.
16 November 2014
Tips Mengurai Kebuntuan Sebelum Menulis
hasrat untuk menulis sedang diujung ubun-ubun. Jika kalian merasa
tidak pernah, aku akan menjadi orang pertama yang iri dengan kalian.
Karena jujur saja, aku cukup sering merasakan kebuntuan itu ketika
akan menulis. Sederhananya "bingung mau menulis apa dan mulai dari
mana". Nah, kawan disini aku hanya sedang memaparkan bahwa aku pernah
mengalami kebuntuan itu, cukup sering malah. Karena itu jangan heran
jika blog ini cukup lamban dalam pembaharuan konten. Sebelumnya aku
pernah menulis sebuah pengakuan tentang catatan seorang blogger
musiman. Dimana melalui pembenaran-pembenaran sedemikian rupa, yang
pada intinya hanya mengharapkan "kemakluman" pembaca kalau-kalau blog
jarang update.
Namun kali ini, kita sejenak lupakan pembenaran-pembenaran itu. Sebab
apapun alasannya, kita perlu melatih kemampuan kita dalam menulis.
Terlebih bagi aku yang kerap mengaku sebagai seorang blogger, tentu
menulis (mengisi konten) sudah serupa dengan merawat rumah. Atau
serupa dengan memberikan perhatian kepada pasangan/ gebetan. Nah,
seperti sudah aku paparkan diatas bahwa aku juga kerap mengalami
kebuntuan saat akan menulis. Lalu hal apa yang kemudian aku lakukan
untuk membantu mengurai kebuntuan saat akan menulis?? Berikut hal-hal
biasa aku lakukan:
¤ Perbanyak Membaca
Meskipun kadang aku merasa jengkel ketika membaca karya orang lain
yang bagus (sebab aku tak kunjung mampu melahirkan karya sebagus itu).
Namun, bagiku memperbaharui/ menambah daftar penyimpanan kepala kita
dengan bacaan-bacaan bermanfaat sangatlah penting. Selain untuk
menambah wawasan dan pengetahuan kita, juga karena aktifitas membaca
berbanding lurus dengan aktifitas menulis. Semakin minim bahan bacaan
maka akan semakin minim bahan tulisan, begitu sebaliknya. Maka
perbanyaklah membaca, apapun dan dimanapun.
¤ Pergilah Ke Suatu Tempat
Hal kedua yang tak kalah penting dan biasa aku lakukan yaitu
mengunjungi tempat-tempat favorit. Aku biasa pergi ke warung kopi
untuk sekedar merefres suasana agar tidak melulu di dalam kamar/
ruangan. Bisa dengan pasangan atau dengan kawan-kawan yang memiliki
keinginan sama. Atau bisa juga di warung kopi itulah sambil memulai
menulis. Dan tentu saja, kalian boleh berkunjung kemana saja tempat
yang kalian suka. Sebab biar bagaimanapun kita adalah manusia, jangan
sampai hidupmu kurang piknik. Jangan lupa, buanglah sampah pada
tempatnya.
¤ Sesekali, Berdiskusilah
Jangan kemudian diskusi disini diartikan dengan kaku. Sebagai makhluk
sosial tentu kita tidak bisa terlepas dari aktifitas bersama sesama.
Dengan kata lain, diskusi aku maksudkan sebagai hubungan sosial kita
dimasyarakat. Dalam keseharian, tentu saja kita tidak bisa terlepas
dari hal itu. Nah, dari situ biasanya aku mengamati obrolan
orang-orang (lebih baik ikut terlibat) kalau-kalau ada hal yang
menarik untuk kita tulis. Tentu saja hal ini bisa dilakukan dimana
saja, bisa di kantor, sekolah, kampus bahkan kantin. Bila perlu kalian
yang mengawali obrolan, kunci pada pembahasan tertentu yang memang
kalian ingin bahas.
¤ Sesekali Berkunjung ke Blog Orang
Untuk tips kali ini sebenarnya hampir sama dengan yang pertama, yaitu
membaca. Hanya saja di point ini lebih fokus pada CEO atau teknis. Di
dunia internet banyak sekali blogger hebat, nah sesekali bacalah
bagaimana mereka itu meraih kesuksesan di dunia blogger. Hal ini biasa
aku lakukan untuk menjaga semangat dalam merawat blog. Juga untuk
belajar tips-tips menarik seputar blogger. Aktifitas ini dalam dunia
blogger biasa disebut 'blogwalking'. Jika kalian sudah merasa iri
dengan blog orang lain, maka itu dapat membakar semangat bahwa kalian
juga bisa dan harus bisa.
¤ Jangan Muluk-muluk
Kesalahan yang biasa aku lakukan yaitu ingin menulis hal-hal yang
berbobot. Namun lambat laun aku menyadari bahwa untuk menuju kesana
butuh proses yang tidak sebentar. Dan jika aku masih saja terpatok
dengan hal itu, maka ujungnya aku tak kunjung menulis. Nah, sebagai
awalan mulailah untuk menuliskan hal-hal yang ringan. Hal yang biasa
di temui dalam keseharian kita. Itulah yang aku lakukan, aku
menuliskan apapun yang ingin ku tulis. Karena blog juga merupakan
wadah dimana aku dan kalian menempa kreatifitas menulis kita. So,
mulailah menulis. Jangan muluk-muluk dahulu, ciptakan saja dulu
kebiasaan kita untuk menulis secara rutin.
Nah, itulah sedikit yang bisa aku bagikan kepada kalian. Karena aku
juga masih berusaha menempa diri untuk bisa konsisten dalam menulis.
Setidaknya melalui blog inilah aku bisa berbagi pengalaman bersama
kalian. Semoga bermanfaat dan selamat mencoba. #HappyBlogging
14 November 2014
Kopi Pahit Itu Nikmat, Sementara Hidup?
kopi, tentu saja aku sangat menyukai kopi. Jangan cemburu dulu, sebab
aku penikmat kopi. Sementara kamu bukan untuk dinikmati, tapi untuk
dicintai. Bukan begitu??
Baiklah lupakan dulu soal cinta-cinta itu, kembali pada derap rayu si
kopi. Sebelum aku bertanya, aku kasih tahu dulu kalau aku cukup suka
pada kopi pahit. Ah, jangan tanya kenapa dulu? Nanti juga aku kasih
tahu alasannya, yah nanti beberapa baris kebawah.
Sebelum terlalu jauh, aku ingatkan dulu kalau disini aku bukan akan
membahas sisi positif maupun negatif dari kopi. Karena dua hal itu
bagiku terlalu mainstream di hal apapun. Karena itu aku memberi judul
tulisan kali ini "Kopi Pahit Itu Nikmat, Sementara Hidup?". Tentu
saja, kalian sedikit banyaknya bisa menelaah maksud dari judul
tersebut bukan?? Tentu saja, kalian pasti cukup kritis jika sampai
tersesat dan membaca tulisan ini.
Lalu apa hubungannya kopi pahit dengan dinamika hidup yang (sangat
mungkin) naik-turun/ tidak stabil ini. Disitulah point pentingnya,
dimana kopi yang bagi (sebagian) orang identik dengan rasa manis. Aku
justru lain, bagiku kopi ya jangan terlalu manis (pait lebih nikmat).
Alasannya bukan karena kadar gula berlebih itu tidak baik, melainkan
karena aku ingin menempa diriku. Bahwa kenyataan hidup tidak selamanya
akan manis. Sesekali kepahitan hidup pasti akan datang, entah kapan
waktunya.
Istilah kerennya "kenyataan tidak selalu berbanding lurus dengan apa
diharapkan". Nah, karena itu cobalah sesekali untuk merasakan paitnya
kopi. Syukur-syukur bisa menikmatinya, bukan apa-apa setidaknya biar
bisa mengecap nikmatnya kopi pait. Siapa tahu, dari situ akan membuat
kita terbiasa dengan hal-hal pait salah satunya kepahitan hidup. Jika
sudah terbiasa (siap) menghadapi pahitnya hidup, tentu saja akan
memudahkan kita untuk tetap bersyukur. Meskipun sedang dalam keadaan
kurang baik sekalipun.
Sebenarnya dulu aku pernah menulis hal serupa, yaitu bagaimana kita
bisa tetap bersyukur atas apa yang sudah kita dapat dan punyai. Hanya
saja kali ini lebih spesifik, yaitu pada point kopi pait. Ah, kopi
memang selalu asik dan nampak romantis dengan hujan. Terlebih bila
sudah ketemu sama si singkong, hemmm pastilah langsung klop.
Barangkali seperti kawan lama yang baru berjumpa, keduanya langsung
terlibat percakapan intim. :))
Baiklah kawan, mungkin itu dulu cerita pagi ini. Jika diantara kalian
ada penikmat coklat, tak mengapa. Bukankah diantara kita tidak harus
seragam?? Dan berbeda juga bukan alasan untuk tidak berkawan. Karena
itu, siapapun kalian, penikmat apapun kalian, jika sudah membaca
sampai sini pastilah kalian masuk dalam lingkaran orang-orang tersesat
di jalan yang benar. Hehehee salam kopi dan #HappyBlogging.










